Oleh: Redo Rizaldi | Januari 2, 2016

Remember This?


Masih ingat dengan gambar-gambar tidak jelas di bawah ini?

Saya membuatnya kira-kira di medio tahun 2010, enam tahun yang lalu, lengkap bersamaan dengan tulisan ngawur saya disini.

Nah kemarin, salah satu teman ngumpul warung kopi yang ingat dengan jelas, lebih jelas dari saya yang bahkan tidak lagi benar-benar peduli, mengingatkan kembali soal gambar ini ketika kami sedang membahas dengan tidak jelas juga, bagaimana nasib ‘Jembatan’ Pawan V saat ini dan pentingnya untuk perlu diselesaikan sebelum jembatan Pawan I, satu-satunya akses yang menghubungkan utara dengan selatan ambruk.

Teman saya itu mengingatkan dengan jelas bagaimana lucunya, orang yang menentang dan mengolok-olok pembangunan jembatan itu sekarang berbicara seolah-olah ‘gihak’ alias bersemangat agar jembatan itu dilanjutkan kembali.

Orang itu adalah saya, tersindir dengan tepat.

Well, berhubung sedang menjadi trend setiap publik figur (yang jelas saya bukan), untuk menggunakan hak jawab tanpa meributkannya di warung kopi pada waktu itu, maka ini lah hak jawab sayah.

Seingat-ingat saya dan sudah saya cross check kembali tulisan saya di tahun 2010 itu, tidak ada sama sekali maksud saya untuk menentang pembangunan jembatan tersebut. Untuk apa? Meskipun waktu itu saya belum terlalu aware, saya mafhum akan pentingnya pembangunan sebuah jembatan alternatif, saya juga lah salah satu kelak yang paling merasakan dampak baiknya jika ada jembatan alternatif ini.

Begitu jembatan Pawan V ini beroperasi, maka jembatan Pawan I yang kondisinya sudah memprihatinkan bisa direnovasi.

Yang saya keluhkan dari saya tukang pengeluh ini waktu itu adalah bagaimana nampaknya this glorious idea about pawan V bridge is….

Dengan dana yang ‘kata’ nya hampir 80 M, di jawa kita bisa membangun 10 Jembatan. Pengetahuan sok tahu ini saya kutip dan dapatkan dari teman saya yang bekerja di Dinas PU di Yogyakarta (mbuh itu kota ne opo sleman opo mbantul)

Oke lah kita berburuk sangka dengan menidakkan kebocoran anggaran, sifat koruptif para pengambil kebijakan dlsbnya, kita lihatlah seluruh dana dipakai untuk desain, jenis materiill, ni jembatan yang jelas beda lah, lebih  mewah istimewa, kerenn .

jenis materill wah ini saya dapatkan dari salah satu keluarga isteri saya yang mengaku pernah bekerja sebagai konsultan proyek jembatan ini dan insist proyek ini sesuai dengan yang dianggarkan.

Tapi apa gunanya jembatan keren nan mentereng kalau tidak berfungsi sama sekali sebagai jembatan?

Kenapa tidak membangun jembatan yang biasa-biasa aja yang kost nya ‘cukup’ untuk pembangunan sebuah jembatan yang benar-benar jadi berfungsi sebagai jembatan.

Itu lah dasarnya saya membuat kartun tidak jelas dengan lakon ikan pecut di dalamnya itu. Bagaimana sementereng apa pun idenya,

Yang menjijikan buat saya waktu itu bahkan hingga sekarang mungkin, adalah bagaimana alur pembangunan ini mengikuti kepentingan politik dan segelintir elit ketimbang untuk hajat orang banyak, terlebih trik politik klasik yang membaguskan jalan, menyelesaikan pekerjaan atau setengah merampungkan jembatan di akhir periode jabatan

Sehingga yang mengesalkan adalah sekarang, Proyek itu setengah matang.

“Kita” ah tidak, salah….. “penguasa” penguasa pada waktu itu punya anggaran buat membuat Fettucini Carbonara yang mahal nan enak untuk rakyatnya. entah somehow, biaya itu sama sekali tidak cukup untuk menjadikannya sebuah masakan jadi. but instead, membuat telor ceplok mata sapi atau orak arik yang penting bisa dimakan untuk rakyatnya, penguasa pada waktu itu memaksa untuk memasak terus hingga jadi setengah matang dan berharap penguasa selanjutnya yang waktu itu diproyeksikan adalah anaknya, bisa melanjutkan untuk menyelesaikan masakan itu.

fettucini-carbonara

apa lacur, yang jadi bukan anaknya, melainkan orang lain. Dan penguasa selanjutnya itu, dalam lima tahun periode kepemimpinanya sama sekali tidak menyentuh masakan setengah matang itu.

Lalu kemudian penguasa sebelumnya cuci tangan lalu sekedar menyalahkan penguasa selanjutnya yang tidak melanjutkan masakan beliau.

Lebih-lebih lagi ada yang merasa bangga kepada beliau atas ide besarnya yang menghasilkan masakan setengah matang itu?

Seriously….

Fetuu…eh salah lagi…jembatan pawan V itu pada akhirnya hanya teronggok begitu saja, menjadi prasasti selama hampir 10 tahun ini (2008-2016 dst)

Prasasti kegagalan sebuah grandous idea.

Jadi tempat mancing dan motret2 selfie serta tempat perfecto buat muda mudi mojok.

Warga-memadati-jembatan-Pawan-Lima

But its okay.

But its okay,

But its okay.

Hidup hampir lima tahun kembali ke kota ini mengenalkan saya banyak hal. Perspektif saya soal penguasa itu pun tidak sebengis dulu lagi. (Mungkin suatu saat akan saya buat tulisan sendiri soal para penguasa di kota ini)

bagaimana begitu luar biasa kota ini yang bencana sebesar apapun yang bisa terjadi, bagaimana tengilnya pun penguasa kota ini, tak akan mampu membuat rakyatnya kehilangan kesabaran.  Rakyat dengan kota Ketapang akan selalu menjadi tanah betuah, ketentraman di jiwa yang tidak mudah punah. seperti apa pun dunia yang dibangun di sekelilingnya.

iya kan?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: