Oleh: Redo Rizaldi | Desember 7, 2015

My Brave Girl


Pagi ini Najwa, anak kedua saya, melakukan kesalahan sederhana yang menjadi sedikit bencana. bermain dengan bola volley di halaman namun karena terlalu kuat melambungkannya,  bola tersebut nyangkut ke atas lalu jatuh ke dalam salah satu bagian rumah yang memiliki rongga sempit. pertama-tama ia meminta tolong orang rumah, tanpa membangunkan ayahnya yang galak ini karena takut dimarahi. Ketika berusaha diambil, bola tersebut malah semakin masuk ke dalam rongga yang sempit dan gelap itu, orang rumah menyerah dan yakin bola itu tidak mungkin akan bisa diambil. Ketika ayahnya yang galak ini bangun di siang hari, ibunya anak-anak, isteri yang selalu tergila-gila mencintai saya (malah melantur) melaporkan kejadian itu. Saya pun dengan sigap dengan hanya memakai kolor boxer (asli..) memanggil Najwa dan minta ditunjukkan dimana bola itu nyangkut dan jatuh. Saya semula berpikir paling nyangkut di atas atap, tapi setelah ditunjukkan oleh anak itu, luar biasa, saya pun semula sudah bilang mustahil untuk mengambilnya. tinggi rongga itu kira-kira satu setengah kali badan saya, yang sebenarnya kalo badan saya tidak selebar dan perut tidak sebuncit sekarang bisa masuk dan mengambil bola tersebut.

Ceritanya saya mau menyerah, tapi berpikir kemudian, sepertinya akan menjadi preseden yang buruk buat anak-anak ku untuk bersikap mudah menyerah (seolah-olah).

Lalu lah akal gila itu tiba.. saya malah menyuruh si najwa yang masuk ke dalamnya. ke dalam rongga sempit gelap yang ternyata setelah di coba muat untuk tubuh kecilnya. Didorong oleh perasaan bersalah dan bertanggung jawab, meski takut-takut, ia pun menyanggupi untuk masuk ke dalam rongga setinggi dua kali tubuhnya itu.

Rongga dimana bisa jadi ada kecoa, serangga, ular, atau naga! ia mencoba tidak peduli dan meraih-raih bola itu dan pada akhirnya dapat.

Setelah ia serahkan dengan susah payah kepada bapaknya yang enak-enakan duduk di atas bangunan itu, ia pun bisa keluar setelah dibantu oleh bapaknya yang tidak bertanggungjawab ini dengan menarik tangannya keluar dari rongga sempit itu dengan tubuh dan pakaian yang basah kuyup karena kejahilan bapaknya ini melepas salah satu sambungan pipa air yg berada di atasnya dan kotor karena entah apa lah.

Bapaknya yang sebenarnya khawatir (jelas!!) anaknya justru bisa terjebak disitu, akhirnya lega dan terselip rasa bangga.

Pertama, bapaknya ini merasa berhasil, mengajarkan untuk tidak mudah menyerah.

Kedua, saya yakin ini akan menjadi pengalaman berkesan yang akan ia ingat0ingat selalu.

Najwa……. diam-diam your father mu ini bangga sekali sama diri mu nak…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: