Oleh: Redo Rizaldi | Juli 16, 2014

Sekolah Sekolah Hantu


DSC_1132

 

Pada awal tahun yang lalu saya memiliki sebuah ide tolol dari beberapa ide tolol lainnya, agar sekolah-sekolah swasta yang ada di kota Ketapang membuat sebuah asosiasi. Sebab musababnya adalah pada tahun ajaran sebelumnya, jumlah penerimaan siswa baru di hampir seluruh sekolah swasta di Ketapang, mengalami penurunan yang cukup signifikan. Bahkan sudah memakan korban dengan ditutupnya salah satu sekolah yang tidak mendapatkan murid pada tahun ajaran baru tersebut.

Penyebab dari semua itu semua pihak sudah pasti mengetahuinya. Sekolah-sekolah negeri yang menambah (banyak) lokal baru secara masif. dan juga tidak adanya batasan NEM untuk penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah negeri itu.

Akibatnya jelas, pihak orang tua jelas lebih memilih memasukkan anak-anaknya dengan peluang sebesar-besarnya ke sekolah negeri tersebut tidak masalah serendah apa pun NEM mereka.

Kecuali gratis atau bisa kasih jaminan 100 % masuk Universitas Negeri, atau begitu lulus langsung diterima jadi pegawai negeri, sekolah swasta yang ada di kota ini tetap saja jadi pilihan kedua setelah sekolah negeri.

 

Jadilah saya mengajukan ide tolol ini ke Kepala Sekolah saya sendiri, ke pemilik salah satu yayasan Islam yang menaungi sebuah sekolah swasta, juga ke Kepala sekolah swasta tempat saya pernah mengajar dulu,

Bahwa dengan asosiasi ini kita bisa bersama-sama memiliki posisi tawar kita dengan Dinas pendidikan agar setidaknya kalau tidak bisa meminta penghentian proyek pembangunan lokal baru, seyogyanya setidaknya kita meminta, menekan Dinas agar adanya pembatasan NEM bagi penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah negeri.

Kesemuanya menyambut baik, tapi tidak yakin ide tolol soal asosiasi ini akan berhasil.

Mereka lebih senang membenahi dari dalam.

 

Tahun ajaran baru tahun ini pun tiba. Sekolah kami yang pada tahun sebelumnya mendapatkan lebih dari 33 siswa, sekarang 25. Sekolah yayasan Islam terakhir saya dengan hanya mendapat 10 Siswa, sekolah tempat saya pernah mengajar agak lebih baik, mendapat 2 kelas, setelah tahun sebelumnya mendapatkan 4 kelas, dan tahun sebelumnya mendapatkan 6 kelas. 

 

Trend nya harusnya sudah kebaca dari sini. Iya kan?

Dan apa ide terbaik yang bisa kita lakukan?

 

Membenahi dari dalam?

Sedangkan resources-nya yakni para peserta didik tidak memadai dari tahun ke tahun terus menurun.

Berkeluh kesah atas nama sekolah atau pribadi? Itu saya yakin sudah banyak yang melakukan dan dianggap angin lalu oleh oknum-oknum di Dinas (yang obviously project oriented).

Tidak kah sadar, sekolah swasta dibunuh perlahan-lahan oleh induk semang mereka sendiri?

Mereka tidak peduli, mereka akan sangat senang membangunkan lokal-lokal baru untuk kita, tapi apakah kemudian lokal-lokal baru tersebut terisi atau bukan, itu bukan urusan mereka, mereka tidak mau tahu.

Mereka tutup mata tutup telinga hati dan pikiran, bahwa kebijakan mereka yang juga membangunkan lokal-lokal baru ke sekolah negeri bisa berdampak buruk bagi sekolah swasta.

Selama proyek-proyek yang menguntungkan mereka bisa dibuat dan diadakan.

Mereka yang mengiyakan akan mengatur penerimaan siswa baru dengan sistem rayon atau dengan pembatasan NEM, tidak benar-benar melakukannya.

Karena tidak ada untungnya bagi mereka sama sekali.

Iya kan?

Pihak-pihak sekolah negeri juga jelas tidak akan mau mengalah. mereka butuh untuk dana BOS, untuk sertifikasi guru-guru.

Mereka sah untuk tidak mau tahu kondisi sekolah swasta.

Jangan heran nanti, tahun depan dan tahun-tahun selanjutnya, lokal-lokal bagus dan megah yang dibangunkan untuk kita yang sekarang sudah banyak yang kosong, akan jadi kosong melompong.

Sekolah menjadi sekolah-sekolah hantu, tidak ada penghuninya.

Jadi bagaimana? Akan tetap ‘hanya’ membenahi dari dalam?

Ataukah ide saya terlalu tolol untuk dicoba?

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: