Oleh: Redo Rizaldi | Mei 20, 2014

Akhir dari Saga Gila Bodoh (Selesai)


Sudah berpekan-pekan lamanya saya menunda untuk melanjutkan tulisan saga gila bodoh saya. Keringnya keinginan, mengelupasnya kepercayaan kepada diri sendiri ditambah disibukkan kegiatan yang memeras fisik luar biasa di umur saya saat ini, sebuah jalan yang harus saya selesaikan.

Menunda untuk menempuh jalan lainnya, tak sanggup tuk beriringan.

 

Hal ini juga yang pernah saya alami, atau sejujurnya, masih saya alami. Mundur maju, maju mundur, yah, sebagai manusia biasa yang belum juga bijak lah.

Bagian mundur maju ini lah yang menjadi bagian terakhir anti klimaks dari tulisan saga gila bodoh saya.

Setelah dihantukkan kepala oleh sang sengkuni, ketika memilih untuk mundur total dari kegilaan ini, saya senyap tak berbunyi lagi, hanya jadi bahan candaan, atau godaan kerabat dan sahabat di lingkungan pergaulan.

Alkisah, ketika kehilangan semua kenanaran itu, kembali kehidupan biasa yang hampa, saya bersama isteri bersilaturrahmi dengan salah seorang kolega saya di dunia olahraga beladiri pencak silat yang sedang saya geluti. Beliau juga salah seorang dari 50 orang yang di awal-awal saya minta tandatangan dan dukungan, namun beliau satu-satunya yang antusias, setelah saya kunjungi untuk meminta dukungan, beliau besok paginya langsung membalas kunjungan tersebut dengan datang ke rumah saya menyatakan dukungan, memohon beberapa lembar kertas untuk dia berusaha membantu saya juga mencari dukungan.

Dan itu sudah berbulan-bulan yang lalu.

Jadi ketika saya kembali bersilaturrahmi ke tempat beliau bersama isteri karena diminta oleh beliau untuk bertandang ke rumahnya, saya yang sudah kehilangan hasrat dan syahwat politik saya, tidak punya firasat apa pun lagi.

Tapi beliau kemudian menyodorkan beberapa lembar kertas fotokopi KTP yang dia sebut ada berjumlah seratus-an.

“Bagaimana do? Kita masih lanjut ndak ni? Saya sudah mengumpulkan segini”

Melihat itu saya tidak bisa berkata apa-apa.

Bagaimana seseorang bisa menjadi patri sang Ilahi.

“Kalau sudah kehendak Tuhan, kamu jadi pemimpin, mana bisa kamu menolaknya” Ucap sang sengkuni waktu itu.

Disodorkan beberapa lembar fotokopian saja sudah mampu menarik kembali deburan riak syahwat politik ke tepian hati, yang sebelumnya hanya menggenang dengan tenang.

Sekaligus rasa sedih bercampur malu di hati. Bagaimana orang lain bisa masih mampu menjaga nyala asa yang ada, sementara saya sendiri selaku pemilik asa tersebut berusaha memadamkannya.

“Saya benar-benar tidak menyangka abang masih menjalankannya” Saya hanya mampu berucap sekedarnya.

“Saya kalau sudah memulai sesuatu, akan saya laksanakan sampai tuntas. Kalau kamu?”

Pertanyaan sederhana yang menghunjam ke ulu hati.

Saya kisahkan berbagai onak duri halang rintang kehidupan ketika saya menjalankan semua ini, beliau paham.

“Beri saya waktu” Ujar saya.

Saya pun berpamitan dengan meninggalkan ribuan pertanyaan di dalam diri saya, mengapa harus kembali ditarik ke jalan yang ini?……..

“Kalau sudah kehendak Tuhan, kamu jadi pemimpin, mana bisa kamu menolaknya”

Ucapan itu kembali terngiang-ngiang.

Ini kah ini…….

“Jika kamu katakan tidak melanjutkannya lagi, maka kamu akan mengecewakannya, bi” Ujar isteri saya, ketika saya menceritakan hal ini.

Lantas apa yang harus saya lakukan? Harus kah saya menjalankan kegilaan kemarin? Ke berbagai tempat, pelosok wilayah asing, untuk memohon dukungan?

Tidak.

Apa pun itu, saya harus memulainya dengan apa yang terbaik di dalam diri saya.

Salah satunya adalah menulis.

Oleh karena itu lah, melalui blog usang saya, saya jabarkan berbagai pengalaman yang sudah saya lalui ini, yang mungkin bukan buat orang lain, tapi bagi diri saya sendiri, bernilai, berarti.

Melangkahkan kaki, mewujudkan mimpi, memulai…..

Dengan harapan menjadi semacam landasan untuk saya kembali melangkahkan kaki, mewujudkan mimpi, memulai, menjadi pemimpi(n)

Dan landasan itu saat ini, ternyata tidak cukup membawa saya kemana-mana.

Masih berputar disitu-situ saja.

Tapi dengan kekalutan yang tidak seberapa, dan kepasrahan yang lebih, pemahaman yang lebih.

“Kalau sudah kehendak Tuhan, kamu jadi pemimpin, mana bisa kamu menolaknya”

Saya percaya, saya hanya mampu berusaha sebisa saya diberi kuasa oleh sang maha.

Sekarang, nanti bukan lagi pilihan saya.

Bukan lagi saya,

Mungkin…..

Sekarang, masih begitu, maju mundur, mundur maju, jadi teringat ketika jatuh cinta dengan seseorang yang menjadi istri saya sekarang ini.

Maju mundur, mundur maju.

Pada akhirnya ketika itu jodoh saya, mana mampu saya menolak, dan tidak akan saya tolak.

 Dan sebenarnya, dengan tidak menuliskan hal tidak berguna ini pun tidak ada yang peduli atau ambil tahu, hanya saja seperti yang orang baik yang mau mendukung mimpi saya itu katakan.

Selesaikan lah apa yang dimulai.

 

-Saga Gila Bodoh Selesai-

 

Babak selanjutnya?

 

 

PS: Tadi siang ketika saya memutuskan istirahat selagi menulis ini, Di pertigaan Tukang es tebu langganan saya, saya bertemu lagi dengan beliau. Luar biasa, ia tetap melanjutkannya, sampai sedekat atau sejauh apa pun itu, saya hanya mengamini, semoga saya tidak mengecewakannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: