Oleh: Redo Rizaldi | April 30, 2014

Sang Sengkuni


Gambar

Keresahan tidak pernah lelah untuk menggugah, setiap saat setiap malam, bahkan disaat seharusnya tubuh dan pikiran ini terlelap tuk istirahat.

Hari demi hari, seminggu dua minggu, saya menderita, oleh ambisi saya yang tak jua terlaksana, juga rasa malu yang luar biasa, tidak mampu ditutup-tutupi kepada kolega-kolega saya terutama, yang telah mendukung semangat saya untuk menjadi gila di awal-awalnya.

Manusia dengan keinginannya.

Dan kepada Sengkuni lah saya mencari jawabannya.

Sengkuni yang sudah lama saya tinggalkan, jauhi, rendahkan, hinakan, karena tidak mampu memenuhi apa yang saya inginkan, membuat keajaiban, menempa besi tidak berguna ini yang entah untuk kapan menjadi  keris mandraguna.

Atau pada akhirnya tetap menjadi seonggok besi tidak berguna.

Tapi ternyata penolakan Sengkuni lebih keras.

“Hentikan” Ujarnya.

“Kamu belum sanggup, jangan memaksakan diri”

Saya tidak terima, berontak, di dalam hati.

“Kamu ikut jadi tim sukses saja dulu, belajar”

Saya menggeleng kuat, saya menolak.

Dia sepertinya paham syahwat apa yang sedang menyelimuti hati

“Jangan karena nafsu kamu menangkap seekor ikan kamu sampai mengeringkan sungai, membuat orang banyak menderita”

Jadi keinginan saya menjadi pemimpin, menurutnya kalau pun terjadi, akan membuat rakyat menderita?

Saya meradang.

“Saya akan mengeringkan sungai” Sahut saya disulut emosi.

“Coba saja”

“Pasti ” Saya tidak peduli lagi

Dengan segala yang diajarkan kepada diri ini.

Harus tahun ini pak, jika tidak, saya tidak akan mau lagi berurusan dengan politik, cukup sudah dengan segala kegilaan yang ada, saya lebih memiih hidup menjadi orang biasa, menjadi guru di sekolah, mengajar dan makan gaji, saya tidak akan mau lagi.

“Mana bisa begitu, kalau kehendak Tuhan kau tiba saatnya menjadi pemimpin, mana bisa kau tolak”

Saya menggeleng dengan marah.

“Tidak, cukup. Saya akan mencoba mengeringkan sungai sampai akhir tahun ini, apabila gagal, saya akan berhenti sama sekali dari perkara gila ini” Saya ulangi lagi.

“Kenapa harus menunggu akhir tahun? Kenapa tidak sekarang kamu berhenti saja” Desaknya

Dan saya hanya bisa mengulang jawaban yang hampa dan sama.

Hati saya sudah remuk.

Orang yang seharusnya mendukung saya, malah justru mematahkan semangat.

Jika dia saja yang saya anggap mampu tahu siapa saya, bisa mengatakan yang saya lakukan ini salah.

Lantas untuk apa saya lanjutkan?

 

Malam itu, saya pulang dengan penuh kekalutan.

Saya tahu saya tidak akan mampu melakukan itu, mengeringkan sungai, yang benar saja, bukan itu tujuan saya jelas.

Saya marah, saya menyerah. Mungkin mereka benar, saya belum sanggup, belum pantas sama sekali untuk itu.

Atau malah tidak akan pernah pantas sama sekali.

Maksud saya, siapa atau apa yang bisa menjamin  sepuluh tahun atau dua puluh tahun nanti saya mampu?

Mampu seperti apa?

Jika tolak ukurnya adalah standar formula permainan politik sekarang ini adalah tiga ‘o’

Maka, meskipun jika saya memilikinya, sebesar apa pun itu. Begitu juga lawan-lawan politik saya.

Adu besar dan adu banyak.

Lantas apa bedanya saya dengan mereka nanti?

Perubahan apa yang ingin saya bawa, jika saya ‘hanya’ menjadi seperti itu?

Saya ingin hadir dan berarti sebagai ‘umara’ pemutus lingkaran setan materialisme dalam masyarakat kita.

Dan jika kemudian saya jadi dan hanya menjadi sama dengan umara-umara sebelumnya, lantas untuk apa?

Atau untuk saya pribadi, mengulang pertanyaan, siapa atau apa yang bisa menjamin sepuluh atau dua puluh tahun nanti saya masih hidup untuk berbuat?

Kenapa sengkuni ituseolah  yakin saya akan hidup lebih lama, dia jelas bukan Tuhan.

“Kalau itu yang terjadi, ya sudah memang mau bagaimana lagi” Sahut sobat dari kecil saya suatu kali, ketika saya menyampaikan kegelisahan saya ini.

Lantas untuk apa yang saya lakukan selama ini, hanya selingan tak berarti sebelum saya kapan saja siap tidak siap meninggalkan bumi ini? Sebuah permainan milik sang hakiki?

Saya tidak mau berkecamuk lagi, saya lelah saya menyerah.

Besok pagi saya memutuskan untuk benar-benar melupakan semua ini. Membuang seluruh ambisi, hidup tenang apa adanya, menutup mata dan telinga dengan semua apa yang ada.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: