Oleh: Redo Rizaldi | April 29, 2014

Kisah 50 Tandatangan (Keempat)


Di dunia nyata yang katanya hanya ilusi ini, terdapat warna, strata, tingkatan sosial, masyarakat. Ada Brahmana (Ulama, Panditta), Ksatrya (Umara, pemimpin), Waisya (Pedagang) dan Sudra (wong cilik).

Jadi, setelah bergulat sejenak dengan Sudra, saatnya saya merasa tiba waktunya untuk bertemu tokoh-tokoh dari kaum Brahmana, Ksatria, dan Waisya.

Yang Brahmana, seorang ulama terpandang di kota ini, yang terkenal dengan gerakan Tebarkan salam, berilah makan, sambung silaturrahmi dan dirikan lah sholat.

Beliau dikenal juga tidak ingin terlibat di dalam dunia politik praktis.

Jadi ketika ada seorang pemuda sembarangan datang meminta dukungan poitik, tentu saja meskipun ia seorang ulama, tetap saja ia seorang manusia biasa, Wajah beliau tidak terlalu suka.

Beliau berpesan agar “Minta restu ibu mu”

Beliau kenal ibu saya, salah seorang jamaahnya juga. Saya sanggupi, tidak ada perbuatan baik tanpa restu ibu, restu bumi.

Nama dan tanda tangan beliau saya dapatkan, tapi tidak ktpnya, pada akhirnya tujuan saya juga bukan untuk itu.

Yang dari Waisya, saya jumpai, salah seorang tokoh besar senior yang disegani di dalam dunia bisnis, pemilik usaha pengapalan terbesar di kota ini.

Ia menolak memberikan tanda tangan. Dengan alasan yag sebenarnya kurang lebih sama dengan yang saya sebutkan di atas, tidak mau terlibat (lagi) dalam dunia politik praktis.

“Untuk menjadi pemimpin harus memiliki 3 (tiga) ‘o’ ) katanya.

‘o’ yang pertama adalah Otak;strategi&siasat (stratak), yang kedua adalah Otot atau pun dalam hal ini massa, yang terakhir adalah Ongkos.

Beliau bermaksud menyampaikan dengan tersirat, kalau saya hendak menjadi pemimpin kota ini, ‘emang kamu punya apa?’

Saya paham, saya tersenyum saja, saya memang belum memiliki semua yang disebutkannya itu.

Saya hanya punya satu ‘o’

Omong kosong.

 

Belakangan saya ketahui dari teman saya yang berteman dengan salah satu anak sulung beliau, bertanya-tanya siapa gerakan pemuda konyol lusuh yang ditemuinya itu.

Anaknya yang sebenarnya juga mengenal saya, menyangkal kenal.

Dan beliau pun berkomentar

“Harus cepat-cepat berobat tuh sebelum tambah parah”

Tinggal satu warna lagi yang belum saya temui, Ksatriya, umara, pemimpin, saya belum berjodoh dengan sosok-sosok dari kalangan tersebut.


Responses

  1. saia mampir😀

    • silah keun, dah lama gak mampir dimari😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: