Oleh: Redo Rizaldi | April 22, 2014

Kisah 50 Tandatangan (Ketiga)


Gambar

-Tatapan-tatapan mata yang berbeda, asing, penuh syak prasangka, padahal sudah saling kenal sejak lama, bicara di senjanya malam atau warung kopi prapatan-

 

Di  pagi menjelang siang itu, berdiri di sebuah kawasan yang saya tidak kenal sama sekali di daerah dekat pantai air mata, Desa Sungai Awan. Melihat diri sendiri dengan imajinatif, membawa map nyaris seperti petugas sensus atau lebih buruk, orang peminta sumbangan.

Sensasi yang sama ketika saya berada di bibir jembatan waktu itu, degup jantung yang sama kuatnya, nafas yang sama beratnya. Hati berkecamuk sendiri, apakah akan melompat, atau kali ini apakah akan melangkah, Mendatangi orang-orang yang tidak mengenalmu sama sekali.

Dan punya wajah oriental dan (menipu) seperti wajah orang kaya itu agak-agak tricky.

Di satu sisi-pikir saya-dengan tatapan orang-orang yang rumahnya saya datangi, saya adalah seorang bos walet besar yang mencari lahan lalu kemudian dikecewakan karena saya justru meminta sumbangan walaupun bukan berupa uang, tapi KTP.

Pertanyaan-pertanyaan seperti :

“Maaf, apakah anda cina?” atau lebih lagi “Apakah anda muslim?”

Tak terhindarkan.

Jadi untuk permulaan, tidak semudah biasanya, ada yang enggan memberikan dengan berbagai alasan, ada yang dengan baik-baik menyampaikan, ada yang menghardik dengan mengatakan “Tanda tangan mahal sekarang!”

Saya cuma bisa tertawa di dalam hati, oke, ini tantangan.

Suhu perpolitikan waktu itu memang sedang memanas.

Satu bulan menjelang waktu pemilihan legislatif, baleho bertebaran dimana-mana, orang-orang (mengaku) muak.

5 rumah saya datangi dengan nekat, dua rumah kosong, dua menolak, satu yang memberikan semangat, memberikan tanda tangan.

“Semoga niat anda benar untuk kebaikan masyarakat”

Amin, itu doa yang baik.

Hari kedua di sela-sela waktu saya mengajar saya kembali ke tempat itu, memarkirkan kendaraan di salah satu masjid terdekat, lalu berjalan kaki.

Kalau sebelumnya saya langsung menyodorkan map dengan polosnya, sekarang saya berlagak seperti sales man, memperkenalkan diri dulu dengan baik, nama, tempat bekerja, tujuan kedatangan. Berdandan lebih meyakinkan, mencukur kumis, memasang sepatu, kemeja dirapikan.

Ternyata direspon lebih baik.

Dari 20 rumah yang saya datangi, ada 7-8 tanda tangan yang saya dapatkan.

Ada yang bahkan memberikan KTP aslinya untuk saya fotokopi dengan janji besok saya kembalikan.

Tidak ada janji-janji hanya silaturahmi tulus dengan kepentingan yang mudah-mudahan bukan kepentingan pribadi semata.

Ketika ada yang meminta janji-janji, saya janjikan membangun jalan yang terbuat dari emas serta hujan uang untuk mereka.

Karena bagi mereka yang berharap mendapatkan keuntungan, atau berpikir alasan saya bergerak ini untuk kepentingan pribadi, saya akan sangat senang tidak mendapat dukungan, itu doa yang buruk soalnya.

 

“Bagaimana mau percaya dengan dia, diminta untuk memberikan janji-janji saja ia tidak mau” Ujar beberapa dari mereka.

Saya tidak apa-apa, saya mencoba paham.

Saya melakukannya untuk kurang lebih satu minggu, dan semakin hari semakin berat juga ternyata.

Di kawasan itu sudah jadi pembicaraan, ada orang gila yang meminta dukungan jadi bupati, ada juga yang mengatakan tanda tangan itu akan dijual, rumah-rumah yang pintunya ditutup.

Jadi saya pikir cukup.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: