Oleh: Redo Rizaldi | April 20, 2014

Kisah 50 Tandatangan (Pertama)


“Mok, kalau HANYA bisa memilih, bunuh diri atau menjadi gila?”

Itu pertanyaan pertama yang saya ajukan kepada seseorang yang saya ingin pinta dukungan.

“Menjadi gila” Jawabnya.

Saya pun langsung menyodorkan sebuah map berisi dua lembar kertas A4 kepadanya.

“Kalau begitu saya minta fotokopi KTP dan tandatangan amok, saya hendak menjadi gila”

Tentu saja orang yang saya panggil amok itu terkejut mendengarnya, apalagi melihat map yang saya sodorkan itu, sekelumit tanda tanya jelas tergurat di garis wajahnya. Apalagi begitu mengetahui isi di dalam map tersebut.

Lembar pertama adalah sebuah formulir model B1 KWK KPU PERSEORANGAN, tertera diatasnya nama saya sendiri, Redo Aprillindo Rizaldi, tanpa gelar tanpa embel-embel menyertai. Ia menyunggingkan tawa kecil masih separuh tidak percaya apa yang dilihatnya. Lalu menjadi jelas dan paham ketika melihatkan lembar kedua yang berisi sebuah table yang masih kosong melompong dengan urutan nomor, nama lengkap, alamat, serta tanda tangan untuk yang hendak mendukung. Lalu pecahlah tawanya sedemikian rupa.

“Ini sih benar-benar gila, ” ujarnya sembari terkekeh berniat mengejek.

Saya sudah duga beliau akan bereaksi seperti itu, manusia normal mana pun yang mengetahu pahit asinnya kehidupan, kehidupan politik khususnya.

Tapi itu hanya masih kerikil yang dilemparkan kepada saya.

“Emang gila, saya tidak menyangkalnya sedikit pun. Siapalah saya, hanya seorang guru honor biasa, orang normal mana yang akan mendukung saya, ha ha” Sahut saya.

“Lantas kalau kau tahu begitu, kenapa masih melakukannya?”

“Karena saya gila, saya rasa. Cuma itu, lagi pula tidak ada ruginya saya pikir orang seperti Amok menyerahkan ‘hanya’ fotokopi ktp dan tandatangan, tidak ada ruginya sama sekali”

Saudara tua saya itu masih tidak yakin sama sekali. Jelas saja.

“Ayolah mok, cuman sepotong fotokopi ktp dan tanda tangan, tidak akan rugi” Saya merengek dan mengemis.

“Apa visi dan misi mu memangnya? Amok mau tahu” Beliau bertanya, meski sebenarnya, sekedar berbasa-basi.

Ia tidak ingin terdengar menolak dengan jelas kepada seorang adik kecilnya yang ia kenal selama ini, ia kasihan, adiknya bisa menjadi seperti ini.

“Visi misi ku ya jelas bisa resmi menjadi calon independen untuk tahun 2015 nanti, mengumpulkan 30ribu fotokopi dan tanda tangan. Apa? Amok mengharapkan visi misi saya kalau sudah jadi nanti? Ha ha jangan bermimpi, selesaikan dan buktikan dulu saya bisa mengumpulan dukungan, baru kita bicara apa yang ingin lakukan begitu sudah terpilih nanti”

“Lagi pula jika saya bilang akan membuat bumi kayong sejahtera, seluruh rakyatnya kaya raya, apa amok percaya? Haha saya sih dan semua orang pun bisa dengan mudah mengucapkannya” lanjut saya lagi.

“Baiklah, betul juga…hmmm tahun 2015, tahun depan ya…apa ndak mepet, emang masih ada kemungkinan?” Tanyanya lagi, entah untuk apa.

“Masih sepuluh bulan, kalau saya berhasil mengumpulkan 200 orang saja dalam dua bulan dan seratus dari 200 orang itu bisa saya yakinkah untuk membantu saya mencari dukungan, sepuluh bulan lebih dari cukup”

Beliau pun mengangguk seolah paham.

“Jadi bagaimana? Mau mendukung saya menjadi gila?”

Lalu beliau pun menggoreskan sebuah tanda tangan, minus fotokopi, ia masih berhitung-hitung di benak dan hati.

Tapi saya tidak kehilangan akal, saya jepretkan ktp aslinya dengan kamera dari hape saya ala kadarnya, hasilnya memang jauh dari kata memuaskan.

Gambar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: