Oleh: Redo Rizaldi | April 20, 2014

Catatan Si Gila Bodoh


Gambar

Apa yang kau lakukan ketika sedang menghadapi masalah yang seperti tidak ada penyelesaiannya? Memutuskan untuk  berada di pinggir jembatan? Berusaha untuk melompat terjun? Namun kemudian kehilangan nyali untuk benar-benar melakukannya.

Dan setelah itu pun solusi tak juga muncul-muncul. Apa lagi hal terburuk yang akan engkau lakukan? Hal tergila?

Selain terduduk di depan teras, merasakan semua neraka yang ada di diri dan kepala, mempertanyakan semua. Bahkan suara panggilan Tuhan di kala senja pun tak lagi mengena. Mempertanyakan semua, permulaan, perjalanan dan akhir…apakah ini akhir dari semuanya, atau masihkah ini dalam proses perjalanan, tapi kenapa sungguh begitu berat, dan ketika ingin memutuskan berhenti, tidak ada tombol yang bisa ditekan, tidak juga tombol kematian, bahwa kau tidak memiliki cukup keberanian.

Apa yang kau lakukan ketika dihimpit batu, apakah manusia bisa berdiam diri saja, menyerah pasrah menunggu kematian sembari tersiksa di bawahnya, atau dengan segala genap daya yang bisa bahkan diluar kehendaknya manusia terus berteriak meminta pertolongan dan mendorong dengan segala kekuatan yang tersisa.

Lalu bagaimana jika teriakan itu berakhir sunyi? Tidak ada yang mendengar padahal ada yang Maha mendengar. Apakah kau akan akan mampu kembali diam untuk selamanya.

Kembali berusaha mencari jalan keluar, memikirkan segala kemungkinan sekecil apa pun itu, tapi tidak mampu, tidak ketemu satu pun, bahkan satu lubang jarum pun.

Kau sudah mengeluarkan semuanya, bahkan senjata terakhir mu yang justru sekarang terus menyerang balik dirimu.

 

Lalu kau teringat, satu janji yang diucapkan seseorang kepada diri mu setahun lebih yang lalu, satu janji manis yang akan membuat mu menemukan tujuan akan siapa diri ini sebenarnya. Bahwa pada tahun sekian, kau akan menjadi pemimpin kota ini.

Dan semua permasalah yang sedang menghadang, batu-batu yang menghimpit ini, adalah bagian dari satu paket janji itu, bahwa masalah yang dihadapi ini akan membentuk mu, menjadi seperti yang dijanjikan.

Tapi tahun yang dijanjikan semakin mendekat, padahal diri ini merasa semakin jauh dari sosok yang dijanjikan. Menjadi pencoleng, pendekar bohong, pengemis hinda dina, pemerkasa rekayasa, bukan seorang pemimpin yang diinginkan.

Kau terlena dengan janji itu.

Lalu kembali menggugat diri sendiri, ternyata selama ini, bahwa kau menunggu seseorang mewujudkannya, tidak mau bergerak dan berbuat. Berharap seseorang akan mewujudkan mimpi mu begitu saja, tapi dengan hanya mengaduh pada bebatuan kehidupan yang menghimpit.

Lalu kau merasa tahu apa yang salah.

Melihat keseluruhan semua ini dari sudut pandang yang berbeda, bahwa justru kau dihimpit seperti sekarang ini agar membuat mu bergerak.

Mendadak di kerumunan di dalam hati di ba’da maghrib itu, ada seperti kekuatan yang muncul, sebuah nyala semangat yang sebelumnya redup. Seperti mampu melencung, meloncati seluruh bebatuan itu dan melawan, mewujudkan yang diinginkan, tidak mengharapkan orang lain untuk mewujudkannya.

Sebuah tujuan.

“Menjadi seorang pemimpin di kota ini di tahun depan, pemimpin yang diinginkan, lebih lagi pemimpin yang dibutuhkan”

Meski menyadari diri ini jauh sama sekali dari apa pun kriteria yang pantas disematkan untuk menjadi seorang pemimpin. Seorang guru yang buruk, anak yang (masih) durhaka, anak yang masih teramat muda dan belum benar-benar pernah bermanfaat bagi masyarakanyat, tidak punya penghasilan yang menjulang, bukan siapa-siapa pastinya.

Jadi jika saya memutuskan untuk mewujudkannya, maka akan banyak suara menyematkan diri saya bukan sebagai pemimpin,

 

tapi si gila dan si bodoh.

Lalu kemudian bebatuan kehidupan lainnya pun menghadang, siap tidak siap diri ini menghadapinya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: