Oleh: Redo Rizaldi | April 15, 2014

Kita Berkebun


Pagi ini seperti pagi di hari lainnya, Saya menyiramkan air ke tanaman cabe yang mengelilingi hampir seluruh koridor sekolah tempat saya bekerja. Saya seorang guru, dari dua tahun yang lalu, setelah terjebak dalam kekacauan di masa belia yang ku buat sendiri, akhirnya memaksakan diri untuk menjadi seorang guru, sebuah cita-cita lama dan usang, akhirnya terwujudkan.

Baru seperempat lahan tanaman cabe yang ku siram, bagian seperempat ini adalah bagian pertama kali aku memutuskan untuk bercocok tanam. Sekolah kami adalah Sekolah Menengah Kejuruan bukan unggulan sama sekali, pilihan terakhir dari banyak siswa yang masuk ke sini. Ada dua jurusan, yang satu Akuntansi, satunya lagi pemasaran. Keduanya penuh dengan teori, miskin praktek. Kalaupun ada program magang di kelas sebelas. Peserta didik di tempat magang menghabiskan sebagian waktunya dengan membuatkan kopi atau memfotokopi berkas, tidak lebih. tidak ada menghitung uang atau membuat jurnal pembukuan, institusi dunia usaha tempat mereka bekerja tidak berani mengambil resiko.

Demi mengetahui hal tersebut, saya berinisiatif untuk mencari alternatif, membuat sebuah program yang ke depannya tidak membuat peserta didik tergantung kepada institusi dunia usaha, tapi kelak justru bisa mandiri, berwirausaha.

Meskipun diri ini jelas bukan sebuah inspirasi terbaik dalam dunia wirausaha.

Saya memilih bercocok tanam tanaman cabe, tidak ada sebab musabab yang mutakhir, hanya karena menurut banyak orang menaman cabe begitu mudah dan sederhana, ditambah kecelakaan harga cabe di pasar beberapa tahun yang lalu, berharap bisa terulang lagi ketika sukses menjalankan progam ini, bersama anak murid.

Tapi ternyata tidak semudah dan sesederhana yang dikatakan orang, semula dengan modal pupuk kotoran sapi di dalam polybag, lalu menebarkan benih ke atasnya, tanaman itu akan tumbuh dengan baik begitu saja, daunnya rimbun, buahnya berjibun, tidak bisa begitu ternyata.

Seperempat tanaman cabe yang saya siram tadi adalah hasil contoh pertama kali saya menaman cabe. Batangnya, kecil dan ringkih, daunnya mungil-mungil dan sedikit, begitu juga buah cabenya.  Mudah terserang hama, entah hama apa pun itu, sekarang kondisinya menggenaskan, daunnya banyak yang berguguran atau bahkan yang mati entah disebabkan apa, saya pun tidak tahu.

Saya tidak pernah memiliki pengalaman menanam cabe sama sekali sebelumnya, saya lulusan ilmu politik yang canggihnya menjadi guru Bahasa Inggris yang kini berusaha belajar bercocok tanam, dari nol.

Mengingatkan saya ketika pertama kali memutuskan untuk menjadi guru, dari lulusan ilmu bukan pendidikan, mengajar bahasa Inggris, skill yang kebetulan saya sedikit banyak kuasai.  Pertama kali masuk ke dalam kelas dengan semangat menyala, bahwa begitu saya akan masuk ke dalam kelas, murid-murid akan terpana melihat cara mengajar saya, menjadi mengerti, pintar dan cerdas begitu saja.

Ternyata tidak, dunia tidak berjalan seperti itu, tidak selalu sesuai dengan apa yang kita ingin kan dan harapkan. Dari jaman saya sekolah sampai saya mengajar, ternyata Bahasa Inggris masih menjadi momok yang menakutkan. Di kelas waktu itu, nyaris sunyi senyap seperti kuburan, terlebih ketika saya memaksakan diri untuk berbicara banyak dengan bahasa Inggris, terlihat wajah polos anak-anak didik saya begitu terpana, atau lebih tepatnya nelangsa, tidak satu pun kata yang mampu dimengerti oleh mereka, atau tidak mau mengerti, terbukti ketika mereka menggelengkan kepala ketika saya bertanya.

“Do you undertand, children?”

“No…!”

 

Ada kesenjangan yang sangat mencolok antara saya dan para peserta didik. Saya dengan dasar ilmu murni serta skill mengajar pas-pas an, gagal membangun jembatan untuk mengatasi kesenjangan tersebut. Ternyata dengan hanya bermodalkan semangat, saya tidak mampu memaksimalkan seluruh potensi peserta didik, saya harus belajar lagi.

Seperti seperempat lahan tanaman cabe itu, begitu kering dan tidak menghasilkan hasil yang sesuai harapan.

Tapi saya tidak menyerah.

Tiga perempat tanaman cabe yang akan saya siram adalah buktinya.

Setelah gagal di tahap pertama, saya kemudian melanjutkan ke tahap ke dua dengan menambah jumlah tanaman cabe sebanyak empat puluh, saya yakin kali ini akan berhasil. Saya belajar untuk memberi pupuk dan pelindung hama organik kepada tanaman cabe saya selanjutnya.

Meski sekali lagi tidak semudah dan sesederhana yang dikatakan orang, terutama ketika berurusan dengan peserta didik. masih tingginya sifat kanak-kanak dan rendahnya etos kerja dan tanggung jawab mereka, menyebabkan kurang dari 10 tanaman cabe dari empat puluh itu ditanam serampangan, jumlah tanah bakar dan kotoran sapi yang tidak memadai dalam satu kantong polybag, juga jumlah benih yang berlebihan dalam satu tempat, membuat saya begitu kesal hingga menegur dengan keras mereka, padahal esensi dari program ini adalah untuk mendidik mereka untuk bertanggung jawab, dan itu laksana jauh panggang dari api.

Jadwal yang saya buat untuk mereka menyiram serta merawat tanaman pun tidak berjalan dengan baik, mereka sering mangkir ketimbang melakukannya.
Dogma dan keterpaksaan memang jarang berhasil menciptakan hasil yang maksimal.

Sehingga saya menyerah, saya memutuskan untuk melakukannya sendiri, karana saya sendiri pun senang melakukannya, bagi saya, bercocok tanam, memelihara dan merawatnya, lalu melihatnya tumbuh, selalu berhasil memberikan keteduhan dan ketenangan jiwa untuk saya pribadi.

Setelah segala suasana kelas serta sekolah yang terkadang melelahkan.

Tanaman cabe tahap kedua ini pun tumbuh dengan sangat baik, sebagian besar memiliki batang hijau yang kuat dan kokoh, daunnya, rimbun, buah cabenya pun lebih banyak ketimbang yang tahap pertama.

Ada beberapa pohon yang tidak tumbuh dengan sempurna, entah itu karena kekurangan tanah atau memang dari bibitnya.

Salah satunya tumbuh seperti bonsai, batangnya pendek daunnya hampir tidak ada sama sekali

Tanaman terakhir yang saya siram, memandanginya dengan penuh keyakinan.

Saya percaya setiap benih, seburuk apa pun asal muasalnya, entah itu dari pohon yang buruk, atau hasil kerusakan genetik, atau lingkungan yang buruk, saya percaya, bahwa jika dijaga serta dirawat dengan sepenuh hati, benih-benih itu akan tumbuh sebaik apa pun potensi yang dimilikinya.

Setiap menyiramnya, dari benih hingga tumbuh berakar dan berdiri tegak menantang dunia, selalu saya sisipkan doa-doa.

Bahwa kelak, niscaya mereka akan memiliki kehidupan yang bermanfaat bagi sekitarnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: