Oleh: Redo Rizaldi | Agustus 2, 2013

An Improper Settlement for a Paradox of Pedagogy Paradigm and Perspective


Jangan terkecoh dengan judulnya, tulisan kali ini tidak akan seruwet itu.
Saya baru saja dipilih untuk menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah (Waka) bidang Kesiswaan. Posisi yang ditawarkan ke hampir seluruh guru di sekolah ini, tapi tidak ada yang tidak menolak, termasuk saya awalnya.

Semua pihak yang bergelut di instusi sekolah pasti mengetahui dan mafhum seperti apa tugas dan tanggung jawab di posisi ini.

Adalah keharusan dan selalu harus tiba di sekolah lebih awal dari siapa pun, dan siap berada dari pagi hingga siang, lah yang dihindari oleh guru-guru termasuk saya, sebenarnya.
Tapi bayaran 900 ribu sebulan cukup membuat saya mempertimbangkan kembali lalu malahan, menawarkan diri ke Kepala Sekolah untuk mengisi posisi tersebut.

Guru yang lain sepertinya sudah cukup kaya sehingga menolaknya.

Jadilah saya, di tahun ajaran baru ini, 2 minggu terakhir, bangun lebih awal, pergi ke sekolah, berdiri di depan parkiran, mengatur paksa merapikan susunan kendaraan bermotor roda dua milik siswa, menyuruh mereka sholat dhuha, memelototi penampilan mereka seperti sorot lampu mercu suar, mengomeli mereka yang terlambat, menghukum mereka terkadang.

Berteriak-teriak setiap melihat anak-anak yang masih di luar kelas meski lonceng masuk sudah berbunyi, dan menegur mereka seperti tanpa henti,
Seperti, tiap anak sepertinya bermasalah, ada saja yang saya temukan momen untuk menaikkan nada bicara, mendatangi mereka dengan wajah seperti baru datang dari neraka, menghalau mereka untuk masuk ke kelas seperti mengusir anak ayam, menyuruh mereka sholat dzuhur sembari mengunci pintu depan agar tidak ada yang bisa kabur.

Begitulah seorang waka kesiswaan, tidak untuk disukai begitu kata salah satu kolega saya, harus siap untuk dibenci.

Belasan tahun yang lalu mungkin tidak akan terpikirkan oleh saya berada di posisi ini. Saya adalah seorang pembangkan di masa masih duduk di bangku sekolah.

Seorang pembangkang dalam diam.

Sia-sia saja guru memerintahkan saya memasukkan baju ke dalam celana dengan rapi, atau rambut saya yang lebih dari kuping dan melebihi alis.

Saya suka datang di atas jam 7 lewat, terlambat, menjadi bahan perhatian dengan gaya melangkah saya yang menyeret-nyeret alas sepatu, masuk ke kelas lalu meletakkan kepala di atas meja, percaya tidak percaya, begitu lah saya sewaktu itu.

Seorang pembangkan dalam diam yang mengganggu dan menyebalkan.

Tapi itu bukan tanpa sebab, I am a rebel with a cause.

Bagi saya waktu itu, tidak penting bagaimana cara kita berpakaian, rapi atau berantakan, yang penting kita nyaman dan percaya diri dengan apa yang kita pakai.

Ide soal mengompori mereka yang suka melihat sampul sebuah buku ketimbang isi di dalamnya selalu ada waktu itu.

Sungguh menyenangkan melihat wajah tersiksa para guru yang biasa hidup tertata rapi, mengomeli dan memarahi orang seperti saya yang tidak sesuai dengan gaya hidup serta sudut pandangnya.
Bahwa tiap anak didik harus sama seperti dirinya, dari ujung kepala hingga kaki harus rapi, baru engkau akan diterima oleh dunia.

Well……..f*ck dunia beserta isinya….

Saya datang terlambat serta langsung menelungkupkan kepala di atas meja dengan mudah juga bukan tanpa sebab.

Rasa jenuh luar biasa berada di sekolah selama belasan tahun, dari kecil hingga beranjak dewasa,
Sekolah yang seperti penjara, bukannya mengembangkan bakat dan segala potensi kita, justru mengukungnya dan tidak membiarkan sama sekali kita menjadi berbeda.

Semua harus berseragam, semua harus sama.

Melawan dalam diam.

Belasan tahun berlalu, sekarang, saya ada di posisi mereka-mereka yang dulu saya benci, Menjadi sosok yang lebih peduli kepada atribut sekolah ketimbang masalah sebenarnya yang dihadapi siswa sehingga tidak mampu tertib atau melakukan hal yang sederhana seperti memasukkan baju ke dalam celana.
Seharusnya saya lebih mengerti, ketimbang memberikan instruksi-instruksi yang absurd.
Mengiring mereka menemukan potensi dan siapa mereka sebenarnya yang terbaik, ketimbang sibuk menjejali mereka dengan khotbah sia-sia.

Saya ingat sewaktu di dalam kelas di sekolah saya dulu, dengan mata saya tertutup, meletakkan kepala di atas meja, merutuki segalanya saya berjanji, jika saya diberi kesempatan untuk menjadi seseorang yang di depan kelas sana.

Saya tidak akan pernah peduli dengan apa yang anak didik pakai, saya akan membuat sekolah menjadi menyenangkan, tidak hanya terjebak di dalam kelas dan mendengarkan materi yang sama sekali tidak ada sangkut pauntya dengan pengembangan diri.

Tapi lihat lah sekarang, mengingkari diri, belum mampu memenuhi janji.

Kelak saya berharap bisa berada di dalam sebuah sekolah yang mengajarkan kehidupan sebenarnya, bukan dogma.

Penuh warna, sekolah yang membuat siswa nya semangat untuk hadir ke sekolah, menemukan diri mereka.

Menjadi beda dan pembeda kelak di masyarakatnya.


Responses

  1. ironis, dilematis, kehilangan idealisme begitulah kamu dan juga saya yg masuk dln sistem pendidikan negeri ini. hehee. salam dari guru yang tdk ingin menyekolahkan anaknya, sebelum ada sekolah untuk manusia😉

    niat gede dulu pengen homeschool-in anak, ealah fakta stlah punya anak malah sibuk ngajarin anak orang laen ketimbang anak sndiri


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: