Oleh: Redo Rizaldi | Juni 18, 2013

The Grand Journey


Seminggu yang lalu, dengan asbab ibu mertua yang sakit keras, kami melakukan perjalanan yang tidak pernah kami rencanakan sama sekali, bahkan tidak terbayangkan akan kami lakukan.

Pergi melakukan perjalanan melintasi tiga kabupaten. Ketapang-Sanggau-Pontianak terus kembali ke Kota ketapang lagi dengan memakai kendaraan roda dua.

Well, sebenarnya ada sih keinginan, untuk menjajal perjalanan darat pada waktu lebaran nanti. tapi berhubung pihak kerabat terus-terusan mendesak, akhirnya kami menyanggupi, meski dengan perasaan was-was, mengingat kondisi kendaraan yang tidak ideal serta jumlah orang yang harus pergi, Saya, Isteri, dan dua anak perempuan saya di atas kendaraan bermotor jenis bebek merek Hon** Sup**.

Tapi alhamdulillah, dari awal perjalanan, berkah hujan turun membuat cuaca tidak begitu terik, meski juga membuat medan jalan menjadi licin dan sulit untuk dilalui, beberapa kali kami berempat jatuh atau membuat istri saya harus mendorong motor keluar dari kubangan lumpur.

tapi semuanya entah kenapa terasa begitu ringan dan menyenangkan.

Kelelahan iya, tapi pengalaman yang didapatkan, pemandangan di sepanjang perjalanan yang seperti tak berkesudahan.

Semuanya tak tergantikan.

Jangan hitung jaraknya kayak Jogja-Sleman-Bantul ya. karena normalnya paling cepat saja Ketapang Sanggau butuh waktu 12 jam, Sanggau-Pontianak 3 jam.

Dan kami menempu perjalanan Ketapang-Sanggau dalam waktu 2 hari. termasuk menginap semalam di tempat salah satu teman di tengah perjalanan di daerah sungai laur(*thanks to Jemmie Akbar) dan berehat cukup lama di Sosok, di tempat uni Santi, teman istri, yang bertahun-tahun sudah tidak lama bertemu.

Perasaan antara ingin menyerah tapi sudah separuh jalan dan gila kalau ingin kembali menyeruap sering kali di pikiran kami, terutama isteri saya, wajah cemas dan lelah nampak kentara sekali.

Anak-anak juga karena tempat di datas kendaraan roda dua yang tidak ideal buat mereka, beberapa kali menangis.

Saya mau tidak mau harus menghibur dan memberi semangat kepada mereka, selain kepada diri sendiri di sepanjang perjalanan.

Di antara jalan yang hancur dan rusak, penuh lumpur atau pun bebatuan, justru disitu kami menemukan kebersamaan yang kami butuhkan selama ini, dianatara tangis rasa kesal dan juga marah, disitu terselip juga tawa lepas.

Dan sekarang, ketika kembali dalam rutinitas, saya merindukannya, segala perjalanan itu, segala pengalaman yang saya alami.

Saya ingin melakukannya lagi.

A Grand Journey

A Family Grand Journey

Together


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: