Oleh: Redo Rizaldi | Juni 1, 2013

Omong Kosong Pendidikan


Gambar

 

Dalam tulisan saya yang terakhir sebelum ini, saya sudah menyampaikan kegundahgulanaan saya sebagai seorang guru (belum tenaga pendidik) terhadap pelaksanaa Ujian Nasional (UN) yang tidak mencerminkan semangat pendidikan sama sekali. Sebuah lingkaran ketidakpercayaan yang dibangun oleh negara bangsa ini di dalam sebuah sistem setiap tahunnya untuk anak-anak bangsa.

Sebagaimana yang saya tulis sebelumnya, salah satu fokus mendiknas adalah ‘mengakali’ bagaimana agar para siswa tingkat akhir yang ikut UN tidak lagi curang alias mencontek, Kelihatannya sebaik itu maksudnya.

Dengan sistem 20 paket soal yang berbeda-beda, tentu saja terlihat meyakinkan, bahwa para siswa-siswa yang PASTI mencontek itu tidak akan mampu berkutik, mati kutu, nangis-nangis, menye menye, dst.

Tapi begitu pengumuman hasil UN keluar, jreng jreng!! hasilnya sangat-sangat memuaskan! Untuk sekolah tempat saya mengajar seratus persen anak didik saya lulus! Hore !!

Tentu saja sebagai guru yang mengajari mereka mati-matian dari pagi hingga malam, berbulan-bulan dilanda kecemasan, melihat hasil itu tentu saja merasa sangat sangat SANGAT SENANG !!

TIDAK JUGA! well…tidak seharusnya begitu ya, tidak tahu bersyukur namanya.

AKAN TETAPI, yang sejujurnya saya rasakan, dan saya yakin sebagian besar guru-guru lainnya di negara ini juga merasakan hal yang sama. Dan jadi pemikiran juga adalah………..

DI kelas-kelas yang saya ajar, ada berapa murid yang kehadirannya bisa dihitung dengan jari (tangan dan kaki) namun bisa mendapatkan hasil UN yang memuaskan.

Apakah itu tidak sama dengan siswa-siswa tidak perlu belajar di kelas untuk bisa “pintar” menjawab soal-soal Ujian Nasional?

Lantas untuk apa saya ngomel2, stress, memikirkan dan membuat materi yang tidak pernah mereka pelajari?

Segala Try Out, segala les ini itu yang tidak mereka hadiri, semuanya hanya sia-sia?

Mereka bisa pintar tanpa saya, woo! tercapai sudah tujuan pendidikan. Kita boleh bangga karena mampu membuat mereka mau belajar tanpa guru.

Betulkah begitu?

Saya tanyakan kepada mereka, jawabannnya tidak mengejutkan sama sekali. Mereka mendapat kunci jawaban!

Kurang luar biasa apa lagi murid kita, dengan sistem anti curang soal 20 paket, mereka masih bisa mendapatkan kunci jawabannya!

Darimana mereka mendapatkannya sementara soal dan kunci sumbernya cuman ada di DInas Pendidikan yang jujur dan professional!

Dengan penjagaan yang ketat, mana mungkin sama sekali bisa tembus.

Jadi mereka pasti mendapatkannya dari eyang subur dkk.

Sampai pada titik inii, saya stop percaya dengan hasil UN (bisa syirik saya) bagaimana pun metodenya.

Saya pun merasa tidak perlu benar-benar mengajar mereka yang tidak mau belajar.

Marah-marah, stress, merancang RPP yang sesuai dengan SKL, prettt!

They could easily find the answer key.

Thank you Gaylord!!!


Responses

  1. gayfocker


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: