Oleh: Redo Rizaldi | April 3, 2013

Circle of Distrust


Ujian Nasional 2013

Baru-baru ini saya membaca sebuah berita tentang Ujian Nasional yang dalam beberapa minggu lagi akan dihelat.

Pada lembar jawaban Ujian Nasional nanti akan diberi “Barcode” untuk mengantisipasi kecurangan yang akan dilakukan oleh para peserta ujian.

Kemdikbud juga sudah menyiapkan 20 soal variasi soal untuk mengeliminir bocornya kunci jawaban.

Sudah menjadi rahasia umum dan banyak diketahui khalayak. Setiap tahun akan selalu ada berita dan cerita kebocoran di Ujian Nasional. Sudah berbagai macam metode dan cara tiap tahun ditingkatkan, namun tetap saja masih ada.

Padahal segala sumbernya, dari lembar soal dan jawaban beserta kuncinya semuanya dari Kemdikbud. Dari manakah lagi pihak-pihak yang berhasil mendapatkan kunci jawaban selama ini? Eyang Subur?

Apakah tahun ini dengan barcode serta variasi soal akan berakhir dengan cerita yang sama?

Kemendiknas sendiri mengklaim bahwa tingkat kecurangan di UN terus berkurang dari tahun ketahun.

Namun, bukan itu maksud dari tulisan saya ini.

Yang menjadi perhatian sekaligus keprihatinan saya adalah, justru dengan segala metode dan cara-cara itu seolah-olah menyiratkan ketidakpercayaan pihak pembuat kebijakan pendidikan di negeri ini terutama kepada objek penderita sistem pendidikan selama ini, para siswa.

Bahwa klaim Kemendiknas di atas kontras dengan langkah yang mereka ambil.

Apa yang bisa didapatkan dari sebuah ketidakpercayaan?

Sebuah generasi emas yang secara mental sehat? Saya tidak yakin itu.

Selama ini dari apa yang saya lihat dan rasakan sendiri. bagaimana ketidakpercayaan itu sudah menggerogoti seluruh elemen institusi pedagogi di kota tempat saya tinggal. Dari pihak kemendiknas yang tidak percaya kepada pihak sekolah, hingga pihak sekolah yang tidak percaya kepada proses Kegiatan Belajar Mengajar yang dilakukan oleh mereka, bagaimana dengan peserta didiknya? Mereka tidak akan pernah percaya kemampuan diri mereka sendiri.

Sebuah lingkaran ketidakpercayaan yang melelahkan buat dijalani oleh tenaga pendidik seperti saya.

Untuk mengantisipasi nilai UN yang jeblok, saya harus mengatrol nilai belajar mereka bertahun-tahun.

Bayangkan seluruh upaya dan kerja keras kita mendidik dan membina karakter mereka pupus begitu saja ketika kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang kita ajarkan selama ini.

Jujur, tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Peserta didik pun, meski tidak pernah secara resmi dinyatakan, yakin nilai mereka akan dikatrol, tanpa belajar pun mereka akan baik-baik saja. Karena mereka yakin, Sekolah tidak akan membuat malu dirinya sendiri dengan mengambil resiko hasil murni dari kondisi kalau banyak peserta didik mereka tidak lulus.

Yang berakibat rusaknya reputasi sekolah di mata masyarakat.

Jadi apa yang dihasilkan dari semua ini? Kegagalan?

Itu artinya saya juga sedang berburuk sangka saja.

Diantara busuknya bangkai serigala, saya harus menemukan rangkainya giginya yang masih putih dan bersih, sebuah hikmah.

Bahwa sistem pendidikan negeri ini, tidak akan pernah sempurna.
Harus menepis segala kebusukan yang ditanam oleh manusia-manusia rakus dan lupa diri yang ada di dalamnya.
Dengan terus berdoa dan berusaha. mengkonversi nilai lebih dari sekedar angka-angka di atas kertas. tapi membentuk manusia-manusia yang benar-benar berkualitas.

Hingga suatu saat pada masanya, atas kehendakNYa, akan ada pemimpin-pemimpin yang benar-benar memiliki niat yang baik, membangun bangsa ini untuk menjadi bangsa yang berkarakter.

Bukan sekedar menjadi generasi mesin para pekerja, dan budak materialisme,

tapi menjadi individu-individu yang mulia, bangsa yang baik untuk sekalian alam.

ini pesan untuk siapa saja di negeri ini yang masih percaya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: