Oleh: Redo Rizaldi | Mei 27, 2012

Yang mengganggu di pikiran


Minggu lalu, saya mendapatkan kesempatan jadi guide dadakan seorang bule australi yang ingin mengkaji Ketapang sebagai tempat tujuan bisnis wisatanya yang bernama Orangutan Odysseys. Rencana yang dipaparkannya adalah membuat paket perjalanan bagi wisatawan luar maupun dalam negeri yang ingin melihat Orangutan, saya tidak pernah menyangka ada orang yang rela merogoh koceknya pergi ke luar ke negara ini hanya untuk melihat Orangutan? Ada tujuan mulia yang saya tidak mau meragukan atau berpikiran buruk tentangnya, yakni memmbangun kesadaran orang-orang akan betapa pentingnya komunitas Orangutan yang terancam punah ini (Di seluruh dunia tinggal 60ribuan? CMIIW).

Orangutan

Dalam peran saya sebagai guide-lebih tepatnya translator, menilik rendahnya pengetahuan saya mengenai tujuan wisata di kota kelahiran saya sendiri ini- di antara yang tidak, maupun yang menyenangkan, ada beberapa hal yang menarik yang saya dapatkan, wawasan, tentang Orangutan tentunya, kera bukan lah monyet, dan hanya ada empat jenis kera di dunia ini, Orangutan termasuk di dalamnya, dan yang paling menjadi renungan saya adalah diskusi kecil saya dengan Mr. Garry ketika makan siang, mengenai isu lingkungan.

Ah isu itu, sudah lama tidak terdengar di telinga saya, mengingatkan kembali bagaimana tertariknya saya akan isu itu, ketika masih menjadi mahasiswa di Yogayakarta.

Tapi begitu kembali ke kota ini, kota kelahiran saya, semuanya terkikis runtuh dalam ingatan saya. Dengan masyarakatnya yang pragmatis, isu lingkungan hanyalah omong kosong, atau pun kalo jadi wacana, hanya sebatas pemoles bibir semata.

Mr. Garry begitu antusias mengingatkan saya betapa pentingnya kota ini menjaga hutan hujannya yang semakin lama habis oleh pembalakan liar mapun yg paling masif dan jadi tren saat ini, perkebunan kelapa sawit.

 

Yang terakhir itu juga lah yang menjadi bahan perhatiannya, nampak dari nada bicaranya, ia sangat menyayangkan dengan adanya perkebunan sawit di kota ini. Bahwa itu hanya menjadi solusi jangka pendek tapi berakibat fatal untuk jangka panjangnya, untuk anak cucu kita, ketika tanah akibat perkebunan kelapa sawit sudah tidak subur lagi, tanahnya hanya akan menjadi gurun pasir.

Perkebunan Kelapa Sawit

Ia berpesan kepada saya-setelah mengetahui profesi saya seorang guru-untuk menyampaikan kepada anak-anak murid saya bagaimana pentingnya menjaga lingkungan, menjaga hutan.

Semua itu saya amini tentu saja, saya juga sudah menyampaikannya kepada anak-anak murid saya sedikit banyak.

Tapi ada yang tersisa, ada yang tertinggal. ada yang salah….

Mereka anak murid saya, bukanlah orang-orang yang menebang hutan, saya yakin sekali itu, mereka juga bukan orang-orang yang bekerja di perkebunan kelapa sawit.

Jadi mengapa mereka harus peduli? bukan mereka yang melakukannya? Walaupun mereka terkena dampaknya dengan begitu panasnya kota ini, terutama dua tahun terakhir. Apa yang harus mereka lakukan? Selain hanya boleh mengeluh?

Salah sasaran kah? Tidak juga.

Bertahun-tahun yang akan datang, ketika anak-anak murid saya masuk ke dalam lingkup dunia kerja, mereka akan melihat perkebunan tersebut sebagai opsi.

Apalagi Perkebunan kelapa sawit selain pertambangan di kota ini, menjadi primadona, selain pegawai negeri juga.

Hell….tidak ada gambaran sedikit pun kota ini memikirkan solusi lainnya di luar dari itu. Bisnis? Entrepeneurship? Masih di kuasai pihak-pihak tertentu yang jaringan dan proteksinya kuat.

Bisnis pariwisata seperti Orangutan Odysseys? Bahkan secarik kertas peta kota pun tidak ada di satu saja travel agent kota ini, atau di hotel bertaraf internasional yang berdiri megah di kota ini.

Jadi?

Apa yang bisa ditawarkan? oleh gurunya yang dirinya sendiri saja masih gagal untuk menjadi bos usaha dirinya sendiri?

Atau bagaimana menghentikan perkebunan kelapa sawit itu sekaligus memberikan solusi lapangan pekerjaan yang setidaknya sama besarnya menyerap tenaga kerja seperti yang dimiliki oleh perkebunan dan pertambangan?

Mengajak murid-murid saya agar berdemo di depan gedung-gedung pemerintahan? Meminta mereka menghentikan ijin penggunaan lahan untuk kelapa sawit?

Apakah setelah itu, mereka-mereka yang berada di dinas begitu mendengar seruan kami seperti mendengarkan firman Tuhan, tercerahkan mendapat ilham, berpikir jauh ke depan, dan mengiyakan tuntunan kami sehingga tidak ada lagi perkebunan kelapa sawit, sisa-sisa hutan kita terjaga, ada lapangan kerja penggantinya, lalu kota ini menjadi kota yang kembali sejuk udara di kala siangnya?

 

Bisa begitu?

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: