Oleh: Redo Rizaldi | Maret 27, 2012

Empati


Masih dalam teror kenaikan BBM awal April ini? Jangan salah, di kota saya harga bensin premium sudah kurang lebih setengah tahun ini naik menjadi 6.000/liter, bahkan di beberapa tempat ada yang lebih tinggi.

Apa yang terjadi selama kurang lebih enam bulan kenaikan itu? Kericuhan? Tidak ada. Demo? Jarang. Harga melambung tinggi? Bubur yang biasa saya beli di pagi hari tetap seharga lima ribu.

Yang kacau paling hanya SPBU tidak bermutu yang hanya buka beberapa jam sekali, hanya untuk para pengecer yang mau membayar lebih.

Jadi apa lagi yang ditakutkan jika pemerintah benar-benar mewujudkan niatnya untuk menaikkan harga premium.

Harga di eceran akan melonjak naek tajam? Tentu saja sudah terjadi, paling tidak di beberapa titik di kota ini. dari yang memasang harga spekulasi 7.000 sampai 8.000

Jangan khawatir, kota ini pernah memiliki harga yang lebih tinggi dari itu.

Namun di dekat rumah saya

Ada kios yang selalu menjual harga ecerannya dibawah dari harga ‘normal’ kota ini.

Jika harga ‘normal’ nya enam sampai tujuh ribu, kios itu akan menjual hanya lima atau lima ribu lima ratus.

Sekarang ketika para pengecer dadakan mematok harga sebesar tujuh sampai delapan ribu, kios itu hanya memasang harga 6000.

Meski tidak selalu (mampu) menjual bensinya, Kalau stok ada

Tidak mengherankan kalau begitu kios ini menjual bensinnya, para pengantrinya tidak kalah ramai dibanding SPBU-SPBU aspal itu.

Kios ini membatasi pembelian hanya sampai 3 liter, sehingga tetap banyak yang kebagian bahan bakar dengan harga yang lebih ‘miring’

Bagaimana dengan takaran, insya Allah sepanjang pengetahuan saya tidak ada yang mengeluh kurang seperti di beberapa kios lainnya yang menjual bensin dengan harga sama murahnya tapi tidak sampai satu liter.

Saya pernah menanyakan alasannya, tidak ada jawaban yang bombastis, pemilik kios itu cuman tidak suka saja menaikkan harga terlalu tinggi, di luar batas kewajaran.

Pola pikir yang sudah sangat langka di antara para pengusaha sebenarnya.

Ketika orang lain berlomba-lomba mengambil kesempatan di dalam kesempitan, berusaha mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari ketidakbecusan distribusi minyak di kota ini.

Masih ada yang masih mau mengendurkan nafsunya, berusaha sambil berbuat baik, yang diinginkan namun tidak dimiliki oleh banyak orang.

Sebuah empati,  akan kondisi dimana kerakusan sedang menguasai kebanyakan manusia.

 

Hormat dari jauh untuk pak Ikin dengan isterinya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: