Oleh: Redo Rizaldi | Maret 16, 2012

In Djohar Arifin We Believed


Tidak terasa, kurang lebih sudah hampir setahun dari yang saya masih ingat, Bagaimana bersemangatnya saya pada waktu itu melalui dunia maya, blog ini, juga facebook dan mungkin tidak memberi pengaruh apa pun terhadap peristiwa waktu itu, tapi pada akhirnya, Nurdin Halid mundur juga.

pssi

 

Waktu itu jelas, Nurdin Halid sama sekali sudah tidak bisa ditolerir. Setelah dua kali masa jabatan yang cacat, tersangkut kasus korupsi, dipenjara, juga melanggar statuta.

Juga semakin tidak malu-malunya dia menunjukkan keberpihakan kepada salah satu partai politik dan membawa-bawa sepakbola kita di dalamnya.

Yang paling menyedihkan adalah bagaimana carut marut kompetisi yang penuh dengan kekerasan, kecurangan, serta prestasi Timnas Indonesia yang notabene bisa dikatakan tidak ada sama sekali.

Hingga pada akhirnya, setelah digoyang oleh kompetisi tandingan, tekanan masyarakat bola hampir di seluruh Indonesia, campur tangan beberapa pihak yang berseberangan kepentingan dengannya, Nurdin Halid, meski secara tidak eksplisit, kehilangan jabatannya, bersama dengan sekjen Noegraha Besoes yang sudah berkuasa selama 23 tahun di PSSI.

Penggantinya adalah Professor Djohar Arifin Husin, Men from Nowhere kalau saya boleh bilang, setelah gembar gembor Arifin Panigoro dan George Toisutta yang nama terakhir sebenarnya sama sasing di telinga saya selama ini.

Bukan saya tidak aware akan adanya sinyalir bahwa Professor ini adalah orangnya Arifin Panigoro, orang di balik LPI, kompetisi yang dianggap ilegal tahun lalu, yang mengobok-obok kekuasaan Nurdin semenjak itu.

Terlebih setelah Profesor Djohar berkuasa, liga resmi PSSI yang sebelumnya bernama ISL, berubah menjadi IPL, LPI dalam bahasa londo.

Selama itu juga, dualisme kompetisi ternyata belum bisa hilang juga, kini giliran ISL yang dianggap ilegal.

Bisa dimaklumi jika sekarang kemudian, kisruh akibat gesekan kepentingan seperti tidak akan pernah berakhir, akhir bulan ini, PSSI akan mengadakan kongres tahunan, sementara di kubu bersebrangan, melalui Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia-katanya-atau KPSI akan mengadakan kongres luar biasa.

Djohar begitu kencang digoyang, padahal pemerintahannya belum juga genap satu tahun.

Selain karena dualisme kompetisi, juga karena buruknya prestasi timnas di masa ia menjabat.

Pencinta sepakabola nasional mana yang tidak akan geram dan naik pitam melihat Timnas kesayangan kita dibantai sepuluh gol tanpa balas?

Generasi Garuda muda kita yang semestinya tim masa depan kita kalah oleh tim dari negara yang sama sekali tidak pernah kedengaran prestasinya, Brunei Darussalam.

Djohar Arifin menjadi pihak yang dianggap paling bertanggung jawab atas kekacauan ini.

Masyarakat menjadi antipati terhadap PSSI.

Apakah benar Djohar Arifin pantas menjadi satu-satunya kambing hitam dalam masalah ini?

Bagaimana dengan pihak yang berseberangan kepentingan dengannya? Apakah tidak naif berpikir jika pihak-pihak tersebut tidak hanya akan bergerak melalui KPSI?

Bahwa hasil memalukan sepuluh kosong itu dan kekalahan aneh garuda muda kita tidak mungkin ada campur tangan dari mereka-mereka tersebut? dengan kekuasaan besar pengurus lama?

Spekulasi yang tidak berdasar memang, saya juga bisa menyalahkan bandar judi untuk itu.

Makanya di luar dari itu, saya hanya akan mengemukakan sedikit pendapat saya akan

setidaknya beri sang professor waktu menghabiskan periode jabatannya empat tahun kedepan.

Bahwa kekalahan telak jelas memalukan, tapi Pep Guardiola juga di awal kariernya melatih Barcelona mendapatkan rekor kekalahan terburuk sepanjang sejarah klub.

Tengok apa yang diberikannya kepada Barcelona setelah itu.

Djohar Arifin, tidak terlepas dari kepentingan Bos Arifin di belakangnya, paling tidak belum pernah terlibat kasus korupsi, dipenjara, atau mempertahankan jabatan dengan cara tidak terhormat.

Jika kemudian lima tahun kemudian prestasi sepakbola nasional kita tidak kunjung membaik atau malah kondisinya memburuk,

Biarkan mekanisme demokrasi dalam tubuh PSSI yang bekerja nantinya.

Satu-satunya alasan saya mendukung beliau dan juga mungkin Arifin lain dibelakangnya adalah, konsep kompetisi tanpa APBD yang ditawarkannya.

Ditambah sampai saat ini, belum terdengar secara gamblang, apa kepentingan politik praktis di lamanya selain murni bisnis.

Tidak seperti Pohon beringin tua yang berakar dimana-mana itu.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: