Oleh: Redo Rizaldi | Maret 14, 2012

Tentang Bensin Naik


Sebagaimana sudah menjadi wacana dimana-mana, Pemerintah berencana akan menaikkan harga bensin.

Untuk orang seperti saya yang berada di kota yang terbiasa tidak mendapatkan kesempatan mendapatkan bensin seharga 4500 dan sudah terbiasa membeli bensin harga 6000, kenaikan itu seperti tidak berarti apa-apa.

Saya sebenarnya tidak terlalu memperhatikan lagi berita di televisi, segencar apa pun itu, bosan jenuh, seperti sinetron, ceritanya itu-itu saja.

Dari sekilas informasi yang saya dapatkan dari suara televisi punya bapak yang tidak saya tonton, atau dari keluhan teman-teman di fesbuk, sepertinya dasarnya sama saja, untuk mengurangi subsidi bla bla bla.

Reaksi masyarakat juga sama mudah diprediksinya, marah kecewa, mengutuk, tapi apakah itu akan mampu merubah kebijakan? Saya tidak yakin 100%, mungkin akan ada lobi-lobi dagelan yang akan membuat pemerintah berubah pikiran dengan sedikit menurunkan tingkat kenaikan.

Dan itu akan dianggap sebagai wujud belas kasihan Penguasa kepada rakyatnya.

Kalau untuk saya, dan juga sebenarnya untuk hampir seluruh rakyat Indonesia,

Kita telah melewati masa dari harga Bensin hanya Rp. 1.500,- Sampai sekarang Rp. 4.500.

Apa yang terjadi? Apakah bumi Indonesia berguncang? Di awal-awal iya, namun setelahnya sampai sekarang, kita bisa bertahan, menyesuaikan diri.

Rezeki Allah S.W.T tidak akan bisa diukur dengan jumlah nominal uang.

Apakah rakyat miskin di Indonesia menjadi bertambah? 3 Juta katanya kalo bakalan naik? Saya tidak tahu pasti, di sekitar saya yang mampu membeli motor baru, BB baru ada, yang terus bertahan apa adanya mengemis sana sini juga tetap ada.

Jadi apa yang kita lewatkan disini? Jadi apakah pemerintah tepat menelurkan kebijakan ini? Saya hanya akan selalu mengatakan tidak. Tidak perlu disebutkan lagi bagaimana culasnya pemerintah kita.

Jika bensin turun kembali menjadi 1500 rupiah pun, jika distribusi keuangan negara masih bobrok seperti yang sekarang, kesejahteraan rakyat di Indonesia tidak akan pernah sepenuhnya merata.

Itu masalah sebenarnya.

 

Ada pun kita yang kelak harus bertahan dan menyesuaikan diri lagi, jangan khawatir.
Kalau terasa bensin seharga 6000 sudah terasa berat,

jalan kaki saja.

Di kota saya tinggal, akan mudah dalam beberapa ratus meter setelah melangkah, mendapatkan tumpangan dari orang-orang yang bisa jadi tidak mengenal kita, tapi masih memiliki empati yang sama.

Tidak seperti mereka yang saat ini berkuasa.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: