Oleh: Redo Rizaldi | Januari 16, 2012

Belated Resonance & Resolution of my Year


Years

Ini janji saya jauh sebelum pergantian tahun, tapi karena ada situasi yang harus saya tangani menyangkut isteri dan anak-anak saya, janji itu tertunda hingga sekarang.

Ini bukan sama sekali hal yang penting tentu saja, hanya mengulang, bercermin sebentar, sekaligus membuat oret-oret harapan ke depan, banyak harapan.

Dimulai dari resonansi aja dulu deh, melihat ulang di tahun 2011, hal yang saya ingin sekali tuangkan disini jauh-jauh hari.

Awal tahun 2011, Momen penting dalam hidup saya setelah petualangan nekad ke Jakarta. Di Yogyakarta, mencoba berkeras kepala melawan kenyataan hidup, mengejar mimpi lalu terjerembab kembali ke dasar. Disadarkan dengan sangat keras, terlebih setelah petualangan kelam ketika kembali ke Ibukota, sungguh pengalaman berharga.

Dari Jakarta tersebut hingga akhir tahun, saya sudah menasbihkan tahun 2011 sebagai friendless year.

Hubungan saya dengan tiga teman terdekat rusak beruturut-turut dalam waktu dekat.

Tidak perlu saya sebutkan siapa saja itu, yang pasti dua orang dari mereka yang paling saya sesali. Mulut dan kebodohan saya kepada teman yang berada di Yogyakarta, serta ketidakberdayaan saya terhadap teman saya yang di Pontianak.

Sekarang, hubungan dengan keduanya setelah berusaha memulihkannya, kini berangsur membaik, meski sepertinya tidak akan pernah kembali seperti sedia kala.

Pengecualian untuk teman yang satu itu, teman dekat dari SMA, saya tidak pernah menyesal bermasalah dengannya, saya berubah, dia juga.

Terlebih setelah hubungan dengan adik perempuan saya memburuk dengan sengaja atau tidak karena keberadannya.

Setelah semua itu, masalah pekerjaan, penghidupan untuk makan, Setelah mengalami berbagai pengalaman sia-sia menyangkut hal tersebut. Saya memutuskan untuk kembali ke cita-cita lama, yang saya tinggalkan karena saya takut tidak cukup pantas untuk profesi tersebut, menjadi guru.

Dipaksa oleh kerasnya kehidupan, ini adalah pekerjaan paling lama saya mampu bertahan. Satu semester, berlanjut hingga sekarang, satu hal jika pun ada pelajaran dari semua pengalaman-sia-sia itu, saya harus belajar bertahan lebih lama, lebih dari tiga bulan dalam sebuah pekerjaan, paling tidak untuk benar-benar menambah pengalaman.

Jadi meski sempat digoda oleh pekerjaan lain dari cita-cita lain dalam hidup saya yang kalo diterima akan menghasilkan sesuatu yang cukup menggiurkan, (Menjalani idealisme saya sekaligus dibayar pantas)

Saya pada akhirnya hingga sekarang masih disini, menjadi tenaga pengajar yang masih perlu banyak belajar, saya akui.

Namun jauh di atas semua itu, yang paling benar-benar “BESAR” terjadi dalam hidup saya di tahun 2011 adalah, berkumpulnya kembali keluarga kecil saya setelah segala hal sepertinya tidak memungkinkan hal itu untuk terwujud.

Setelah merajuk dengan buruknya kepada Tuhan, berusaha menutup diri dan menjalani hidup dengan penuh kegelisahan, satu momen yang menyangkut cerita cita-cita lama lain saya telah membuka semua pintu atau semua opsi yang sepertinya semula, tertutup sama sekali.

Meski pada akhirnya momen tersebut tidak berhasil sesuai dengan harapan, saya tidak kecewa, cukup ketika momen itu dihadirkan saja sudah membuat saya merasakan kembali apa yang namanya ketenangan hati dan pikiran, air mata bahagia, pikiran yang terbuka, membuka semua pintu untuk menyelesaikan masalah-masalah saya.

Kemarahan saya yang reda dengan Tuhan, dengan kedua orang tua saya, kepada diri saya sendiri.

Sekarang, mencoba kembali meski dengan tertatih, membangun sebenar-benarnya keluarga, sekaligus terus berusaha mempertahankan jalinan yang baik dengan kedua orang tertua. Menjadi guru yang jauh lebih bertanggung jawab, begitu juga menjadi suami dan orang tua bagi anak-anak ku, menjadi tauladan, menjadi panutan.

Eh yang di atas udah bisa disebut resolusi ya? untuk tahun 2012, oh well, sudah terlanjur, ya sudah basah sekalian :p

Berharap kelak semoga dapat bayaran yang sepadan terhadap apapun pekerjaan saya kelak, kalau bisa sih tetap bertahan dengan pekerjaan ini, tapi jika pun tidak, itu semua hanya atas nama yang namanya realitas kenyataan hidup.

Sesuatu yang belum sepenuhnya saya terima.

Selebihnya, apalagi? oh ya, mengecilkan perut :p

Meskipun telat, saya mengucapkan “Happy New Year NO ONE!!!”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: