Oleh: Redo Rizaldi | Desember 26, 2011

Budak-budak Bahan Bakar


Pertamina Logo
Pada jaman dahulu kala, kira-kira lima belas tahun yang lalu, di kota ini punya hanya satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU), di pinggiran sungainya jauh dari jangkauan masyarakat, jadi orang-orang pada waktu itu yang membutuhkan bahan bakar, terutama untuk kendaraannya, murni hanya mengenal cara membeli dari eceran.

Beberapa tahun setelah itu dibangun satu lagi SPBU, kali ini lebih strategis, di tengah-tengah kota. Milik salah satu pejabat pusat yang berasal dari kota ini. Akan tetapi hukum pasar berlaku, lebih besarnya permintaan dari penawaran membuat SPBU ini hanya buka beberapa hari dalam seminggu, dan itu pun tidak lebih dari setengah hari.

Alhasil masyarakat pun masih dalam pola konsumsi yang sama, membeli di eceran dengan harga lebih mahal, dengan takaran ala kadarnya serta jaminan asli atau campuran bahan bakar yang dibeli.

Belasan tahun kemudian apakah kondisi itu berubah menjadi lebih baik? Ada kurang lebih enam unit SPBU yang sudaH dibangun di kota ini, dan dalam beberapa tahun terakhir, kondisi nya ternyata kurang lebih sama seperti lima belas tahun yang lalu.

Stasiun-stasiun itu hanya buka beberapa hari dalam seminggu, dan harga Bahan Bakar terutama bensin, meroket sampai Rp. 8.000,-

Seolah-olah dengan banyaknya SPBU yang dibangun, itu tetap saja tidak mencukupi permintaan masyarakat.

Benarkah begitu?

Ada yang mengatakan meski jumlah SPBU bertambah, quota bahan bakar untuk kota ini dari pusat tetap alias tidak bertambah.

Bahwa selama ini yang berwenang memberi ijin pembukaan stasiun-stasiun itu tetap memberikan ijin meskipun mengetahui kuota bahan bakar dari pusat untuk kota ini tidak pernah bertambah?

Untuk alasan apa? Kalau seluruh SPBU itu kemudian tidak pernah beroperasi dengan normal.

Cuma untuk dijadikan pajangan?

Antrian di salah satu SPBU Ketapang

Atau alasan lainnya, pembatasan untuk bahan bakar bersubsidi, hasil dari kebijakan brillian pusat agar mengurangi beban negara dan mengalihkan bahan bakar terutama untuk kendaraan ke bahan bakar yang bebas subsidi yakni Pertamax.

Kebijakan itu tidak akan bermasalah JIKA SAJAAA, diringi kesiapan distibusi yang maksimal entah dari pusat atau yang diembani kewajiban untuk menjalankan kebijakan tersebut di daerah.

Tapi tidak, sudah hampir setahun isu kebijakan itu berlalu, Pertamax di kota ini sama langkanya dengan bahan bakar yang lain.

Kalau pun ada, BAAMMM!!!! harganya Rp. 12,900,-
Bandingkan dengan yang ada di daerah Jawa sana yang rata-rata kurang lebih hanya Rp. 9.000,-

Masyarakat di Ketapang ini, untuk membeli bensin eceran saja masih mau dengan harga ceban. (meskipun dengan menggerutu hanya di dalam hati atau di warung kopi :p )

Apalagi kalau dengan harga sama konyolnya itu, masyarakat bisa mendapat bahan bakar yang terjamin kualitasnya itu dan (katanya) tidak membebani negara.

TAPI Itu kalau persediannya ADA.
Tapi tidak, Entah atas alasan apalagi kondisi lapangan yang ada terus buruk selama hampir setahun ini
tanpa terlihat adanya upaya dari yang berwenang memuat kebijakan.

Buang jauh-jauhlah gosip miring kalangan elit yang bermain, dari eksekutif, legislatif sampai yang yudikatif.

TAPIII LAGIII……. dengan cara mereka yang memiliki kewenangan itu mampu memberikan solusi.

Atau benar-benar tidak mau sebenarnya!

payah!
Bensin Eceran

Sebenarnya untuk masalah bahan bakar ini belum menjadi sesuatu yang serius bagi saya pribadi. saya lebih senang memiliki solusi sendiri. Berjalan kaki ke tempat kerja, atau numpang kendaraan yang lewat seperti ikan kecil yang menempel sama paus di dalam laut :p

Saya masih belum menyerah untuk mau menjadi budak bensin dan sejenisnya, membebaskan diri dengan melangkah kan kaki dan menikmati setiap perjalanannya.

barefoot walk babieehh

Tapi untuk masyarakat pada umumnya yang sudah bergantung kepada bahan bakar fosil ini, yang sedang duduk di pemerintahan daerah, kasih solusi doonnkkk!!!

Masa’ mau saja kembali ke masa gelap lima belas tahun yang lalu !!!


Responses

  1. Saatnya bahan bakar oksigen diberdayakan.😆

  2. Oksigen jadi Bahan Bakar??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: