Oleh: Redo Rizaldi | Februari 20, 2011

A Thousand Suns of Linkin Park


Linkin Park's A Thousand Suns Cover Album

Tidak butuh seribu matahari untuk menerangkan betapa kuatnya album ke empatnya Linkin Park ini.

Justru album ini seperti menggambarkan Linkin Park telah seperti memiliki kekuatan seribu matahari di dalam musik dan liriknya.

Pernyataan di atas saya setuju terlalu berlebihan, tapi saya baru-baru ini benar-benar dibuat begitu terpana oleh track-track dari album ini yang bukan sama sekali kumpulan lagu, tapi sebuah paket lengkap, nyaris tak bisa terpisahkan jika hendak menemukan kekuatan seribu matahari album ini, dengan mendengarkan dari track pertama sampai selesai.

Sebuah soundtrack pemikiran band ini akan peperangan, diawali dengan rigid musik techno yang kental di track singkat “The Requim” sampai pada “The Radiance”, lalu masuk lah dengan lembut track “Burning in The Skies” yang akan mudah dikenali oleh penggemar album-album terdahulunya, kemudian kembali diselingi oleh sound dari “Empty Space” yang absurd untuk dilanjutkan oleh “When They Come For Me” yang menghentak dan seperti masih berisi sisa-sisa kemarahan dalam beberapa single di album awal band ini.

“Robot Boy” adalah seperti track selingan sederhana yang lain yang berbisik untuk mengingatkan kita akan kekuatan dunia dengan masa depan serta perdamaian, beriringan dengan “Jornada Del Muerto” untuk mengantarkan kita kepada salah satu single terbaik yang dimilik album ini “Waiting for The End” dimana seperti menggambarkan keinginan band ini untuk berubah, juga merubah dunia ini melalui inspirasi dalam album ini.

“Blackout” seperti single sisa kemarahan yang lain untuk penggemar Hybrid Theory dan Meteora, begitu juga “Wretches And Kings” kemarahan yang patut untuk para penguasa di dunia ini.

“Wisdom, Justice and Love” seperti mendinginkan lagi kemarahan yang tadi.

dilanjutkan oleh “Iridescent” yang lembut lalu “Fallout” yang menyambut “The Catalyst” Single pertama album ini, sebuah rangkuman kekuatan album ini, tentang perang dan perubahan mereka.

Lalu ditutup oleh “The Messenger” yang seperti menonton soundtrak sebuah film ketika di akhir credit titlle, track yang musiknya tidak pernah di dengar di album-album sebelumnya, dengan genjrengan gitar akustik serta lengkingan bukan teriakan Chester yang membahana.

Menutup perjalanan zen dan trance sebuah musik yang mempersona selama lebih dari 40 menit.

Saran saya, untuk mendengarkan kekuatan album ini, selain mendengarkannya secara utuh dari awal sampai akhir, juga lepaskan album-album mereka terdahulu dari memori anda buat sementara.

Ini Band yang telah bermetamorfosa dengan sempurna.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: