Oleh: Redo Rizaldi | Januari 22, 2011

FIFA Sayang Nurdin


Beberapa minggu kemarin, Sepakbola nasional diributkan oleh surat resmi dari FIFA kepada PSSI yang pada intinya berisi dukungan untuk organisasi sepakbola kita tersebut dalam menghadapi masalah kehadiran Liga Premier Indonesia, Liga yang disebut ilegal oleh PSSI.

Banyak orang kaget mengetahuinya, banyak yang tidak percaya atau menyangsikan keaslian surat yang ditunjukkan kepada Media Massa tersebut dengan berbagai kontroversi masalah keasliannya.

Ada keyakinan meski benar FIFA mengirimkan surat kepada PSSI, isinya belum tentu sama dengan yang ditunjukkan oleh Sekjen PSSI Nugraha Besoes waktu press conference.

Namun kalau pun benar isi surat itu sama seribu persen seperti yang dikatakan oleh Nurdin Halid dengan apa yang dikirim FIFA ke PSSI, Saya sama sekali tidak heran.

Bahwa FIFA menutup mata dan menyokong seribu persen PSSI-nya Nurdin, saya akan percaya sepuluh ribu persen.

Bukan kejutan buat saya, indikasinya telah lama saya lihat, terutama ketika permasalahan perubahan statuta PSSI tahun 2008 dan status Nurdin Halid yang waktu itu menjadi terpidana kasus korupsi.

Bagi yang sudah lama mengikuti perkembangan sepak terjang Nurdin, tentu masih ingat bagaimana hebatnya seorang mantan narapidana bisa meyakinkan perwakilan dari organisasi sebesar FIFA agar bisa mempetahankan jabatannya hingga tahun 2011 ini, entah bagaimana caranya.

Tentu juga ingat, alasan hilangnya nama Nurdin Halid di database website resmi organisasi sebesar FIFA selama hampir satu tahun itu, adalah karena kesalahan teknis disebabkan oleh maintenance dari website itu, website sebuah badan organisasi sebesar FIFA? berbulan-bulan?

Untuk saya, sampai pada tahap itu lah tidak lagi begitu mempercayai FIFA sebagai sebuah organisasi yang benar-benar peduli dengan kemajuan sepakbola sebuah negara.

Sebenarnya sudah lama saya dengar dan baca berita miring tentang induk organsisasi sepakbola dunia tersebut, paling berkesan adalah beberapa tulisan kolumnis bola terkenal di salah satu tabloid favorit saya dulu Rob Hughes, yang beberapa kali menyuarakan ketidaksukaannya akan kebijakan-kebijakan FIFA, terutama presidennya Sepp Blater.

Rob Hughes juga bahkan beberapa kali dengan cukup berani, mengindikasikan akan kuatnya aroma korupsi di organisasi tersebut.

Tentu kita ingat, lahirnya piala dunia antar klub (yang sekarang akhirnya dilebur dengan piala Toyota) dan tumbang dengan mudahnya pemegang juara treble asal Eropa Manchester United di babak penyisihan ketika pertama kalinya kompetisi itu digulirkan di Brazil.

Diporsirnya tenaga para pemain untuk terus mengikuti kompetisi yang meraup keuntungan besar tersebut.

Kini kompetisi itu dilebur dengan piala Toyota, meskipun begitu, masih ada sisa-sisa upaya eksploitasi tersebut di Piala Konfederasi atau padatnya pertandingan sepakbola terutama Eropa yang seringkali berakibat pada menurunnya kualitas permainan ketika dihelatnya acara akbar seperti Piala Eropa atau Piala Dunia.

FIFA sebagai satu-satunya organisasi sepakbola dunia, mengatur kompetisi olaharaga ini di seluruh dunia seperti sebuah perusahaan multinasional yang besar dan mengabdi pada dunia industri.

Organisasi ini begitu kuat posisinya dalam dunia sepakbola

Bahkan negara berdaulat manapun tidak bisa melawan, ancamannya terlalu menakutkan, Tim Nasional sebuah negara bisa tidak ikut kompetisi dimana pun dibelahan dunia ini, seperti tentu saja yang paling bergengsi, Piala AFF…eh maksud saya Piala Dunia.

Sosok presidennya pun, yakni yang sekarang Joseph “Sepp” Blatter sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tokoh-tokoh status quo yang menguasai organisasi persepakbolaan kita.

Ia telah memimpin dari tahun 1998- hingga sekarang, terpilih sudah ketiga kalinya, dengan berbagai kontroversi dibalik pemilihan tersebut.

Jadi jangan heran, kalau kemudian FIFA, atau orang-orangnya, mendukung mereka-mereka yang sekarang ini kita benci, Nurdin Halid, Nugraha Besoses dan orang-orang di rezimnya di PSSI.

FIFA begitu mencintai Nurdin, Nugraha dengan PSSI-nya.

Percayalah.

Nurdin, Nugraha, dan Perwakilan dari PSSI yang menicntai mereka.


Responses

  1. hebat bener fifa. G ada negara yg sanggup melawan. Fifa rajanya dunia.

    Itu dia, FIFA beranggapan agar tidak ada campur tangan politik dalam sepakbola

    tapi FIFA sendiri sarat dengan permainan politik, terlebih dalam masa-masa pemilihan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: