Oleh: Redo Rizaldi | Januari 15, 2011

The Secret in Their Eyes Review


The Secret in Their Eyes

The Secret in Their Eyes Poster

Saya tidak tahu harus menulisnya seperti apa, karena plotnya termasuk [I]njlimet[/I] buat saya.

Kita mulai saja dari tokoh utamanya Benjamin Esposito yang setelah pensiun dari dunia hukum di pengadilan Argentina, memutuskan untuk membuat novel yang berdasarkan dari salah satu kasus yang pernah ditanganinya yang sampai sekarang masih mengganggu pikirannya.

Ia menemui Irene Nebebdez, mantan koleganya sekaligus cinta terpendamnya yang pertama kali ia temui ketika pertama kali juga ia mendapatkan kasus tersebut.

Kasusnya adalah pembunuhan dan perkosaan seorang perempuan bernama Liliana Colotto yang cantik jelita, mati terkapar dengan wajah yang menceritakan penderitaan yang mendalam dan berkesan bagi Esposito sehingga yang semula ia enggan mengambil kasus ini, menjadi terobsesi untuk menyelesaikannya.

Esposito berjanji kepada Ricardo Morales, suami dari Liliana perempuan yang diperkosa dan dibunuh tersebut, untuk mencari pelakunya.

Setelah melihat beberapa foto masa lalu Liliana itu, Esposito menemukan seseorang yang selalu tidak melepaskan pandangannya ke arah perem,uan itu setiap di dala foto, sehingga Esposito memutuskan untuk mencari orang yang bernama Isidoro Gómez.

Namun setelah kejadian itu, Isidero Gomez menghilang. Tidak lama kemudian kasus itu ditutup karena tidak menemukan bukti atau pelaku.

Setahun kemudian Esposito tidak sengaja bertemu dengan Ricardo Morales, Suami perempuan itu, di stasiun yang ternyata selama setahun itu, menghabiskan waktunya sepulang kerja untuk menunggu dan melihat, apakah Isidoro Gomez akan muncul di stasiun itu.

Espesito pun bertekad untuk kembali membuka kasus itu dan melanjutkan penyelidikan, bersama asisten sekaligus teman yang paling dipercayanya Pablo Sandoval, mereka akhirnya berhasil menemukan Isidoro Gomes di sebuah pertandingan sepakbola.

Setelah ditangkap, ternyata Isidero Gomez dibebaskan kembali oleh pihak penguasa karena telah memberikan informasi tentang para pemberontak negara, setelah beberapa konflik dengan orang-orang dari pihak penguasa tersebut, Esposito akhirnya menyerah.

Terlebih kemudian Asisten sekaligus sahabatnya Pablo Sandoval, tewas dibunuh di rumahnya Esposito, sehingga oleh Irene ia diputuskan untuk pergi meninggalkan Buenos Aires.

dan pelaku yang diduga membunuh asistannya tersebut, Isidero Gomez pun menghilang.

Okay cukup sampai disitu, selain ceritanya yang lumayan rumit, kekuatan film ini terletak di sinemafotografinya yang beberapa memang mengesankan, Film ini mampu fokus pada tema matam manusia yang menyimpan rahasia, cinta, ambisi atau apa pun.

Pada akhirnya, walaupun film ini berkesan lambat, lebih lambat dari film festival yang biasa saya ikuti, tetap mampu membuat saya penasaran akan kejutan di akhir cerita, dan itu cukup berkesan buat saya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: