Oleh: Redo Rizaldi | Oktober 16, 2009

Belajar Dari Cinta Maradona


Diego Armando Maradona Memang Tidak Pantas Melatih

Siapa yang tidak mengenal Maradona? Siapa pun juga yang mengerti keindahan sepakbola pasti mengakui sosok ini merupakah salah satu legenda hidup sepakbola juga pemain terbaik dunia abad ini.

Sekarang ia melatih kesebelasan negara yang mencintai dan dicintainya, Argentina.

Kita semua tahu, salah satu alasan terbesar Diego Maradona mau melatih Argentina adalah karena kecintaannya terhadap negaranya yang besar, setelah bertahun-tahun tim nasional Argentina paceklik prestasi meski dihuni oleh pemain-pemain bintang kelas dunia seperti Kun Aguerro, Carlitos Teves, dan Lionel Messi, ia ingin berbuat yang terbaik untuk negaranya setelah ia tidak bisa melakukannya lagi sebagai pemain.

Ia mungkin berpikir, melakukan sesuatu terhadap tim negaranya, agar kembali berjaya seperti ketika ia masih bermain, ketimbang terus-terusan hanya mengoceh dan menggerutu dari bangku penonton.

Namun sayangnya, hampir di seluruh pertandingan kualifikasi yang dijalani Argentina, di bawah asuhan Maradona, sampai saat ini, permainan Argentina tidak menjadi lebih baik, bahkan memburuk. Bukan karena stigma pemain terkenal tidak bisa menjadi pelatih yang bagus, bukan juga karena Argentina dibantai Bolivia 6-1.

Hasil dilapangan telah membuktikan, Pemain-pemain Argentina bermain tanpa determinasi serta skema yang jelas. Buruknya permainan dapat dilihat dari jumlah gol yang hanya 11 dari 10 pertandingan di kualifikasi yang mereka jalani.

Di masa depan, dengan lolosnya Argentina ke Piala Dunia, dengan kesempatan yang masih ada, tidak terlihat Maradona mampu melakukan perubahan yang signifikan dalam memperbaiki penampilan anak asuhnya, sudah beberapa pertandingan Maradona gagal membuktikan bahwa ia mampu membawa Argentina meraih kemenangan dengan meyakinkan.

Kecintaan Maradona terhadap Argentina telah membuat seluruh potensi pemainnya tidak terlihat, dengan buruknya strategi miliknya, bersiap saja kita melihat sekali lagi Argentina bermain membosankan di Piala Dunia.

Belajar dari cinta Maradona inilah kita dapat menyimpulkan. Cinta dan kemauan tidak cukup untuk mewujudkan cita-cita kita, mungkin diperlukan kesukarelaan untuk menyadari batas kemampuan, agar tidak hanya membuat cita-cita sendiri bisa kandas, namun cita-cita khalayak ramai ikut juga terkubur.

Oleh karena itu, atas nama tidak hanya publik Argentina, tetapi juga para pecinta keindahan sepak bola di seluruh dunia, tidak bisa tidak…

Mundurlah Maradona.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: