Oleh: Redo Rizaldi | Oktober 3, 2009

Birokrasi Tua Indonesia, Warga Negara Sama Buruk nya


Aturan, Birokrasi, Administasi Indonesia

Hari ini saya berbenah, mengurus surat pindah untuk bisa di bawa pulang ke Kalimantan. Setelah mengurus di RT/RW dan juga ke kelurahan, saya harus mengurus lagi ke kantor kecamatan.

Miris saya melihat cara bekerja orang yang bekerja di sana, masih menulis manual, masih memakan waktu yang cukup banyak.

Untuk permasalahan saya sendiri, tidak ada yang saya keluhkan, sampai kemudian di ujung proses, saya terkendala oleh kesalahan atau lebih tepatnya ketelodoran saya sendiri, yakni tidak memberikan KTP orang-orang yang ada di dalam C1 saya.

Yang saya punya sudah di tangan Polantas kota karena razia dan tidak saya ambil lagi, kalaupun ada, sudah lama lewat masa berlakunya, begitu juga punya isteri dan adik ipar saya. tidak ada toleransi untuk hal tersebut, aturan tetaplah aturan, wajah baik tidak cukup untuk menghindar dari dugaan siapa tahu diri ini ternyata pewarisnya Noordin M. Bottom khan?

Belum tenang pikiran saya untuk memikirkan waktu yang mendesak sebelum hari H saya pulang, meminta isteri yang di Kalimantan, untuk mengirimkan KTP-nya dan KTP adiknya yang pernah tinggal bersama kami di Yogyakarta dulu, yang padahal sudah kadaluarsa. Saya juga ternyata harus membayar biaya yang cukup besar untuk ukuran seseorang yang baru lulus dan tidak punya pekerjaan seperti saya. tiap orang yang ada di dalam C1 dihitung biaya administrasi sebesar 3000 rupiah menjadi 3000 x 5 samadengan 20 ribu rupah (20ribu rupiah!!!)

Jumlah yang tidak seberapa bagi sebagian orang, tapi dasar dari hitung-hitungan biaya tersebut menurut saya lemah sekali, dan untuk apa? Atau mungkin ini ketidaktahuan saya saja akan besar kecilnya biaya operasional pemerintahan.

Saya pulang dengan rugi, perkara belum selesai sama sekali, tapi saya harus sudah membayar untuk hal tersebut.

Menyesal juga dengan ketidakpedulian saya terhadap kartu identitas kemarin, tapi saya lebih menyesal lagi karena telah mengurus semuanya dari awal.

Kalau tahu berbelit-belit begini, saya pasti akan ambil cara yang sudah saya lakukan selama saya menjadi mahasiswa, tidak memiliki identitas dan C1, atau kalau diperlukan, membuatnya dengan cara terlarang, dengan mengindahkan berbagai aturan agar mendapatkan kartu atau kertas administrasi keparat itu, daripada ingin menjadi warga negara yang baik tapi harus repot seperti ini.

Teman saya mentertawakan dan bertanya sinis mengapa saya harus repot untuk mengurus segala macam yang baginya merupakan omong kosong negara itu.

Menyalahkan mereka yang di birokrasi sembari mencari pembenaran diri? tidak juga, sebegaimana yang saya tulis sebagai judul di atas, Birokrasinya tua dan bobrok, tapi warga negaranya seperti saya ini juga sama buruknya.

Sebuah uneg-uneg saja, tidak bertendensi apa pun selain dari itu.

Ingin mengharapkan perubahan dari tulisan ini? Ha…Ha…Ha…yang benar saja…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: