Oleh: Redo Rizaldi | April 21, 2009

Selamat Hari Kartini !


Perjuangan Kartini Mendebat Para Sahabatnya

Oleh: Sirikit Syah, analisis media dan aktivis perempuan di Surabaya.

Islam mengajarkan, seorang ibu harus pintar karena ibu lah yang mendidik anak-anak, membangun generasi. Karena itulah, Perempuan dalam Islam diperbolehkan, bahkan dianjurkan bersekolah. Banyak warga Indonesia keturunan Arab yang puterinya bersekolah hinggaS-1 dan S-2 meski kelak hanya menjadi ibu rumah tangga (di antara mereka teman-teman saya sendiri). Bagi kalangan keluarga Arab itu, menjadi ibu rumah tangga bukan pekerjaan main-main. Engkau harus pintar.

Mungkin, prinsip itulah yang juga mendasari gerakan pendidikan perempuan yang dicetuskan Kartini di penghujung abad ke-19 memasuki abad ke-20. Ketika Kartini berjuang mengadakan pndidikan bagi kaum perempuan, cita-citanya tentu bukan untuk mencapai kesetaraan di segala bidang dengan laki-laki, atau menjadi wanita karir yang sukses. Tujuan Kartini jelas seperti suratnya kepada Tuan dan Nyonya Anton, 4 Oktober 1902:
“Pekerjaan memajukan peradaban manusia haruslah diserahkan kepada perempuan. Dengan demikian, maka peradaban itu akan meluas dengan cepat dalam kalangan bangsa Jawa. Ciptakan ibu-ibu yang cakap serta berpikiran, maka tanah Jawa pasti akan mendapat pekerja yang cakap. Peradaban dan kepandaiannya akan diturunkannya kepada anak-anaknya. Anaka-anak perempuannya akan menjadi ibu pula, sedangkan anak laki-laki akan menjaga kepentingsn bangsanya.”

Sebagai seorang putri Jawa yang dibesarkan di lingkungan feodal, dia melihat betapa pentingnya bekal pengetahuan perempuan bagi kehidupan yang lebih luas. Membangun sebuah generasi bangsa memang harus dimulai dari lingkup-lingkup kecil: rumah, lingkungan tempat tinggal, masyarakat terdekat. Bukankah saat ini kita telah melihat banyak ironi di sekitar kita? Isteri berkarir, Suami kehilangan pekerjaan. Ibu mengajar di sekolah A, anak dikirim ke sekolah B. Ibu mendidik anak orang lain, anak sendiri diasuh pembantu. Ibu makan siang dengan relasi, anak menonton televisi sesuka hati. What’s the point?” Mengenang Kartini saat ini, kita patut mengjkan pertanyaan kritis itu kepada diri kita sendiri: “What’s the point of us getting high education? What for?”

Sejak SD kita belajar tentang Ibu Kita Kartini sebagai pejuang kaumnya. “Habis Gelap Terbitlah Terang” kita maknai sebagai “Habis kebodohan terbitlah penerahan”. Kartini percaya bahwa “Hidup itu indah bila dalam kegelapan kita melihat cahaya terang.” Dalam persepsi saya, “Cahaya terang” itu bukan persahabatannya dengan orang-orang Eropa, atau ilmu yang didapatnya, melainkan perkawinannya dan dan perkenalannya dengan Islam.

Memang tak sedikit tulisan yang mengusik perkawinan Kartini dengan pemikiran-pemikiran antipoligami. Kartini dianggap mulai melemah dan akan membunuh perjuangannya sendiri.
Bila kita simak surat-suratnya, Kartini tampak sibuk dan gencar membantah atau menolak “Sebuah ajakan/ajaran” yang berlawanan dengan kemauannya.

Memang benar bahwa gairah belajar Kartini menurun ketika guru agamanya mengecam bahkan melarang perempuan menggunakan oaknya dalam memahami Alquran. Namun, Skeptismenya terhadap Islam itu terjadi pada saat dia remaja. Dan semua anak remaja pasti mengalami masa “pemberontakan” terhadap segala sesuatu. Untuk Kartini, Pemberontakan itu bukan hanya kepada otokrasi para ulama, tetapi juga kepada feodalisme, perkawinan poligami ayahnya, penjajahan Belanda, dll. Menjadi kurang adil bila surat-surat Kartini yang dianggap sebagai “Jalan pikiran Kartini” itu diseleksi dari surat-suratnya di masa dia remaja dan penuh pergolakan jiwa saja.
Ada kebenaran lain yang tersembunyi, yaitu kebenaran yang muncul ketika Kartini beranjak dewasa. Ketika semakin memahami Alquran, Kartini kemudian mendorong penerjemahan dan penyebarluasannya. Keputusannya menikahi bupati yang telah beristeri juga bukan keputusan membabi buta atau karena dipaksa. Kartini memiliki waktu yang cukup untuk mengenali calon suami dan mempertimbangkan keputusannya. Selain mengagumi dan mencintai calon suaminya, Kartini menikah juga dilandasi cita-cita besarnya, agar memiliki resources lebih besar untuk mendidik anak-anak perempuan dan menyebarluaskan Islam.

Salah satu cuplikan suratnya tentang suaminya cukup menggambarkan bagaimana sosok sang suami: “Saya merasa mendapat hak istimewa di atas ribuan orang untuk mengarungi hidup di samping seorang pria yang demikian luhur.” Di surat yang lain, Kartini menyebut calon suaminya sebagai “permata” yang ditemukannya. Surat-surat bernada seperti itu banyak dilayangkan kepada para sahabatnya, seolah-olah Kartini berjuang meluruskan opini para sahabat yang keliru memahami.

Ada surat lain yang seolah mejelaskan pilihan hidupnya: “Ibu tahu saya merencanakan pergi ke Betawi utnuk belajar guna mencapai ijazah sebagai guru bantu di sana. Akan tetapi, jalan saya tak akan menuju ke barat, jalan saya menuju ke timur, di samping seorang laki-laki terpelajar yang menaruh perhatian pada peradaban Barat. Saya menuju ke perwujudan cita-cita bangsa kami secara langsung dan melalui jalan terpendek.”

Surat-surat semacam itu bisa jadi merupakan jawaban Kartini atas “ajakan entah apa”. Kartini secara tegas memutuskan untuk menikah, bukannya terus bersekolah (atas beasiswa yang diusahakan teman-teman BelandanNya). Bila perwujudan impiannya bisa diperoleh melalui jalur pernikahan atau jalan mendapat beasiswa ke Betawi, dia ternyata memilih jalan pernikahan. Surat-suratnya menyiratkan betapa besar perjuangan Kartini justru untuk beragumentasi dengan para sahabat korespondennya.

Itulah salah satu argument kerasnya dalam masalah perkawinannya: “Pengaruh isteri bupati akan lebih besar daripada pengaruh seorang anak perempuan bupati. Insya Allah saya tak hanya dapat mendidik anak-anak. Tetapi juga berpengaruh kepada ibu-ibu mereka.”

Lebih Cerdas.
Sebagi bangsa penerus cita-cita Kartini, kita mesti lebih cerdas dalam membaca surat-surat Kartini. Suratnya kepada Ny. Van Kohl, 21 Juli 1902. Secara halus menolak “Ajakan” untuk mengikuti kepercayaan si penulis surat: “Yakinlah Nyonya, bahwa kami akan selalu memeluk agama kami yang sekarang”. Kepada Ny Abendanou Mandri, 12 Oktober 1902. Kartini juga menulis: “Kami ingin mengabdi kepada Tuhan dan bukan kepada orang.”

Sayang surat “Para sahabat” yang menimbulkan jawaban-jawaban tegas Kartini itu tak pernah ditampilkan dan ini tentu politik pembentukan opini public. Surat-surat yang diterbitkan hanya surat-surat Kartini, bukan surat sahabatnya, dan telah diseleksi sesuai agenda setting bangsa Belanda pada waktu itu (antara lain kristenisasi, dll). Bila kita membaca surat-surat Kartini, bahkan yang telah diseleksi dengan ketat sekalipun, tersirat betapa para sahabatnya gencar mempengaruhinya untuk meninggalkan Islam, dan mencegahnya untuk menikahi bupati Rembang. Salah satu “iming-iming”-nya: beasiswa bersekolah di Betawi. Namun Kartini memilih untuk menikah.

Bagaimanapun Kartini memang teladan kita. Dia mengajari bangsa ini tentang pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan, dan mengajari kita bagaimana tetap teguh memegang prinsip di tengah derasnya politik strategis penjajahan Belanda agar orang-orang cerdas seperti Kartini meninggalkan jati diri Indonesianya. Kartini ternyata memiliki perjuangan lain yang tersembunyi, yang tak kalah beratnya. Kita patut Menghormatinya.

Sumber: Radar Jogja edisi cetak, Selasa 21 April 2009.

Selamat Hari Kartini, semoga bisa menambah wawasan😀


Responses

  1. sejarah perjuangan kartini bukti sejak dulu bangsa ini ada kesetaraan gender. Maaf kalau gak berkaitan, karena hanya sekedar tes muncul foto pada komentar…

    baja lebih cermat lagi opini yang saya copas kalo begitu😀

  2. Ksimpulan saya : kartini bukanlah pjuang emansipasi, dia ingin wanita itu cerdas utk mndi2k anak2nya mnjadi generasi yg tangguh. Sgt ssuai syariat Islam. Para ulama besar Islam…tdk akan mjd ulama kalo ibunya tdk cerdas dlm mndi2k. Emansipasi sndiri brasal dr wanita kafir utamanya d Prancis thn 1789 krn dperlakukan bagai binatang&tdk mndpt warisan. Sedihnya…d jaman skrg saya mndpti seorang wanita sarjana yg anaknya kurang gizi krn ngotot bkerja, yg lain lu2san SMU tdk mau mnyusui anaknya krn takut payudaranya jd jelek,dan byk lg kisah sedih di jaman akses pndi2kn bgitu mudah. Saya jd ingin buka sekolah ketrampilan rumah tangga saking prihatinnya.

    ha ha ha

    saya dukung kalo benar-benar terealisasi 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: