Oleh: Redo Rizaldi | April 5, 2009

Tempe Lokal Aseli Murni Beneran dari tanah Jawa Indonesia


Minggu ini saya dipekerjakan oleh teman saya di pabrik Home Industry pembuatan tempe milik emak nya, Prof. Dr. Ir. Mary Astuti MS, Guru Besar Fakultas Tekhnologi Pertanian UGM. Beliau dikenal sebagai profesor Tempe oleh masyarakat karena dedikasi beliau dalam meneliti dan mengembangkan tempe di indonesia.

Usaha yang berjalan baru setengah tahun ini, sepertinya memiliki idealisme tersendiri, yakni, memakai kedelai lokal, aseli Indonesia.

Selama ini di Indo, sudah menjadi rahasia umum bahwa produk tempe dihasilkan dari kedelai-kedelai “impor” yang menguasai seluruh pasar komoditi ini.
Hampir tidak ada tempe dan makanan yang sejenisnya, yang memakai bahan baku dasar kedelai itu, berasal dari kedelai lokal.

Kedelai import dianggap lebih bagus, lebih bersih, dan yang terakhir yang sangat menjadi pertimbangan yang kuat terutama oleh para pedagang, harga nya murah!
Jadilah, makanan seperti tempe yang sejatinya makanan tradisional “Genuine” dari Indonesia, tidak lagi bener-bener dari Indonesia.
Padahal, sudah menjadi rahasia umum juga, Kedela-kedelai impor tersebut, adalah produk-produk dari rekayasa genetika yang di negara asalnya, diperuntukkan untuk “pakan” ternak-ternak mereka.

di Indonesia, “Pakan” tersebut menjadi bahan dasar makanan favorit rakyatnya, menjadi ikon bangsa ini bahkan.

Mau bagaimana lagi, para produsen tempe kebanyakan adalah para pedagang murni, tanpa berpikir macam-macam, hanya untuk menyambung hidup dari keuntungan 100-200 rupiah per lembar tempe yang mereka jual.

Sedangkan untuk kedelai lokal, sebagaimana imej orang-orang lokalnya yang dicitrakan oleh orang-orang dari bangsa itu sendiri, menghasilkan kedelai yang “kurang” bagus, dan yang paling menjadi keberatan terbesar bagi para pedagang, berharga mahal.

meski pun berasal dari tanah bangsa ini sendiri, tumbuh “normal” tanpa ada rekayasa apa pun, jenis kacang kedelai lokal ini, seperti menjadi anak tiri di negaranya sendiri.

Jadi, untuk saya pribadi, sungguh tidak awam kalau seorang pakar bergelar profesor dalam bidang pertanian, yang saya lihat dengan mata kepala sendiri kehidupannya sudah lebih dari cukup, mau bersusah-susah membangun sebuah pabrik rumah tangga pembuatan tempe dari kedelai lokal, murni!

Anaknya, yang sekaligus sahabat saya, sepertinya pernah menyebutkan alasannya meski tidak secara tersusun dengan ajeg. Bahwa Ibu nya hendak membuktikan bahwa kualitas kedelai lokal tidak kalah dengan kedelai impor, karena itu beliau berupaya membuat tempe yang murni dari kedelai lokal.

Dulu, target pasar para petani kedelai lokal ini adalah industri-industri besar. Namun dalam beberapa tahun ini, permintaan dari industri-industri besar tersebut semakin jauh menurun, sehingga mereka kebingungan dengan nasib hasil olahan mereka selama ini.

Kehadiran Ibu Mary Astuti, jelas tidak mungkin dianggap sebagai malaikat penolong para petani tersebut, tapi sepertinya apa yang dilakukannya saat ini, jelas juga tidak bisa dianggap hanya langkah yang berdasarkan mencari sumber penghasilan serta keuntungan semata. Dari perbuatan kecil akan menghasilkan perbuatan yang besar. Seperti jargon bocah menteng yang sukses menjadi presiden tempat kita mengimpor kedelai, perubahan akan terjadi, kalau mereka bisa, kenapa kita tidak ?

mewujudkan ketahanan pangan untuk bangsa sendiri oleh bangsa sendiri, indonesia, mulai dari hal kecil dulu, salah satunya ya begini ini, tak perlu menggantungkan kedelai import tapi gunakan kedelai lokal.

Aih, jadi bingung sebenarnya mau menulis apa :p
ide semula sih mau mempromosikan tempe buatan lokal ini, tapi seperti tidak tertuang dengan tepat.

ah biar lah, saat ini saya pikir tidak perlu panjang lebar untuk mempromosikan sebuah produk untuk kalangan dunia maya yang saya yakin punya kapasitas yang mumpuni untuk mengetahui sebuah produk yang bagus atau tidak tanpa harus percaya, tulisan di blog ini sebagai satu-satunya sumber untuk mengetahu apa yang pantas, apa yang kita butuhkan dari sebuah produk.

Langsung saja:

(Contact Person) (0274)558280 untuk pemesanan hanya DIY dan sekitarnya.

Siap antar!


Responses

  1. Harganya berapa tuh tempe? Klo ibu mertua saya, bikin tahu, kedelenya 1:1 impor&lokal. Kl impor tok kurang sedap&kurang kenyal. Memang tahunya lbh enak drpd di solo sini. Tp memang benar, kedelai impor tetap dipilih krn harganya murah. Coba deh bu Mary observasi k Peradenan,Sindanglaut,kab.Cirebon. Bisa jd bhn promosi utk mggalakkan pmakaian kedelai lokal. Bu Mary tdk sndiri, dosen saya dulu DR. Didik Indradewa di Agronomi Fak.Pertanian UGM getol banget pnelitian budidaya kedelai lokal spy produktivitas mningkat dgn biaya produksi murah jd harga bs murah. Mari kita bekerja sama dgn baik.

    Wah terima kasih atas masukannya, akan saya sampaikan kepada yang bersangkutan🙂

    Untuk harga, 2500/lembar dengan berat bersih @ 250 Gram🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: