Oleh: Redo Rizaldi | Oktober 15, 2008

Mengapa Menonton Doa Yang Mengancam Lebih Baik Dari Laskar Pelangi!


Sori, lagi sensi sama antrian di 21 yang mo nonton laskar pelangi yang panjangnya ga masuk di akal setelah 2 minggu, dan hampir membuat saya gagal nonton film Doa Yang Mengancam nya Hanung Bramantyo tadi siang

Saya sampai bikin tulisan tersendiri karena merasa kesal melihat masih banyak orang-orang yang bela-belain ngantri Laskar Pelangi, bahkan untuk ke dua atau tiga kalinya, padahal ada film yang juga pantas di tonton tapi sepi penonton hanya karena kebijakan guoblok 21 (yang di jogja tentunya)

Saya akan membahas film ini satu persatu, dari plotnya, pemain-pemainnya, hingga kekuatan maupun kekurangan dari film ini apa.

Doa Yang Mengancam

Aming dalam doa yang mengancam

Aming dalam doa yang mengancam

Film ini jelas bagi saya adalah film terbaik Hanung Bramantyo! lebih baik dari AAC, bahkan lebih baik dari Catatan Akhir Sekolah favorit gw!

Hanung Bramantyo (walaupun hampir nyaris) telah berhasil menjaga tema film ini jauh-jauh dari tipikal sinetron-sinetron religi semacam sinetron hidayah dan sejenisnya.

Dibuka dengan penggambaran yang dramatis banget!, di luar dari kekurang mampuan pemain-pemain figuran semacam Cici Tegal, Hanung berhasil menggambarkan karakter Madrim dengan kuat!

Tentu saja itu karena akting Aming yang juga sangat sangat sangat kuat! (ada yang mau percaya itu? si pinky boy berwajah aneh itu?!) bermain dengan sangat natural dan total!

Aktor terbaik untuk tahun ini deh!

Saya membandingkannya dengan Jim Carey di Eternal Sunshine of the spotless minds.

Ada di beberapa adegan dia bener-bener terlihat sangat “menakutkan”

Keberadaan Titi Kamal disini juga tidak salah. hayo, berhentilah mengangkat tema-tema streotip orang jelek koq bisa dapet yang cakep, yang dalam kehidupan nyata, streotip itu siapa pun tahu sudah lama terbantahkan.

Porsi Titi Kamal yang kecil menutupi ketidakmampuan aktingnya gw berani bilang, dan itu kejelian dari Hanung (atau siapapun lah yang men set semua itu )

Kehadiran sahabat Badrim yang bernama (duh lupa saya namanya ) sebagai sidekick juga pas, ini contoh sahabat yang benar-benar dibutuhkan oleh orang seperti Badrim atau orang-orang seperti kita, tidak menggurui, tapi juga selalu menjaga kita dan selalu hadir membantu kapan pun kita dalam kesulitan.

Kehadiran Dedi Sutomo sebagai konglomerat yang buronan juga jadi menyegarkan ingatan saya bahwa ada aktor senior yang bisa memiliki kemampuan yang kuat dalam berakting selain Slamet Rahardjo.

Film ini memiliki berbagai shoot yang cukup dan seharusnya, inilah yang membedakannya dengan Laskar Pelangi yang keasyikan dengan panorama indah Belitong. sehingga berbagai emosi di dapatkan dengan gambar-gambar yang perlu!

Kalau bicara kekurangan tentu saja tetap ada dan saya tidak ragu untuk menyebutkannya satu persatu.

Lemahnya akting para pemain-pemain figuran tentu saja salah satunya.

Pertemuan dengan polisi kebetulannya terlalu lemah, seharusnya biarkan saja plot Madrim di kirim ke kantor polisi tanpa perlu embel2 mencari anak pak lurah itu, sehingga di kantor polisi ada “kebetulan” yang lebih realistis dalam polisi menemukan “kemampuan” nya si Madrim.

Karakter Dedi Sutomo juga menurut gw kurang tereksplor, masih sekadar jadi villain, tanpa berhasil meyakinkan Aming (termasuk juga penonton) untuk ikut dengan dia hanya dengan dan karena uang.

Endingnya yang happy ending masih termaafkan, meski semula saya berharap endingnya bisa lebih tragis.

waduh capek saya menulisnya

maaf kalau ini terkesan dibesar-bsarkan

tapi saya sekedar ingin mengeluarkan uneg-uneg saya setelah menonton film ini yang membuat saya tidak bisa tidur

juga Laskar Pelangi yang mulai kelihatan overrated


Responses

  1. Disamping nonton juga harus beli bukunya tuh. seru abis ceritanya. Awas jangan beli buku yang bajakan, yang asli hanya di http://WWW.BUKUKITA.COM

    wah, yang ini termasuk kategori spam nih🙂

    Tapi karena blog saya sepi komentar, dan cara anda juga enak, jadi kali ini saya biarkan😀

    ada yang bilang, buku nya lebih kuat ya di banding film nya😉

  2. Thats great..

    apa yang great???

    mas arie membingungkan nih…

  3. wah kayaknya sy mau nonton nih…sudah lama banget mas hanung pasang trailier film ini di blognya, dari cuplikannya sih menarik banget…

    Tonton aja, di jamin ga nyesel 😉

  4. Film ini menunjukkan bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap doa-doa yang kita panjatkan. Pengabulan doa, ternyata dilakukan Tuhan dengan cara yang berbeda-beda; langsung, ditunda atau dengan bentuk lain. Sebagai manusia, kita harus sadar sepenuhnya bahwa semua yang kita dapati ini adalah anugerah dari Tuhan. Yang membedakan antara orang sholeh dengan tidak adalah sikapnya dalam menerima anugerah itu. Film ini mengajarkan kita tentang itu.

    “Usaha tanpa doa adalah kesombongan, doa tanpa usaha adalah kesia-siaan“

    Saya sebenarnya justru gagal menangkap pesan-pesan reliji di film ini :p

    Ide seseorang yang memiliki kekuatan seperti Badrim di film ini sebenarnya bukan ide yang baru, tapi Hanung secara keseluruhan di sini bener-bener bisa bikin movie (bukan film) yang benar-benar pas, tepat, bagus!

  5. Thx’s om ud nerbitkan data ini gue butuh nih om….

    thx’s b’fore

    data apa ya? dan untuk apa nih kalo boleh tahu?

    sama-sama aja deh😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: