Oleh: Redo Rizaldi | Oktober 3, 2008

Laskar Pelangi


Novel yang sudah hampir setahun saya tinggalkan dan tidak saya tuntaskan membacanya. Hanya karena seminggu yang lalu nonton film nya, setelah itu jadi tertarik lagi untuk membaca kelanjutannya yang masih setengah dari jumlah halaman novel tersebut. Sayangnya, penilaian saya tidak berubah, ceritanya hampir sama membosankan dengan filmnya, kecuali di beberapa bagian yang menggelitik. terlalu banyak deskripsi, minim dialog, serta berbagai penggunaan kata-kata ilmiah membuat saya agak kurang merasa nyaman, novel seperti ini jelas-jelas bukan untuk seseorang yang dungu seperti saya. berusaha mengubek-ubek internet-dengan pak Google tentunya- novel ini telah menginspirasi banyak orang, tapi saya tidak merasa seperti itu, padahal dunia pendidikan adalah salah satu minat terbesar saya. Sungguh saya gagal menangkap esensi dari novel ini, maaf kan saya Andrea Hirata!

Namun juga saya tidak putus harapan untuk setidaknya membaca “Sang Pemimpi” dan “Edensor” yang katanya jauh lebih seru dari novel pendahulunya ini🙂

PS: Gara-gara novel ini, Isteri saya jadi senang membaca lo😀


Responses

  1. saya jadi penasaran gimana sih sebenarnya novel laskar pelangi itu???

    tidak spesial menurut saya hahaha

  2. ih… reviewnya kok mirip banget ama komennya istriku abis nonton ama 20 saudaranya pas ultahnya kemaren…
    gua sih nonton lainnya, sendirian
    apa mungkin gara2 sama2 hobi baca yaa…

    Mungkin saja🙂 kalo bicara masalah filmnya, kelihatan banget koq, Riri Riza, Mira Lesmana serta Andre Hirata berusaha untuk menunjukkan bahwa bahasa tulisan dan bahasa gambar itu berbeda.

    Jadi sebenarnya jangan capek-capek untuk membanding-bandingkan kedua nya😉

  3. sebenarnya di buku ini intinya cmn satu, raihlah mimpimu walaupun keadaan kita berada dititik minus 100,kebetulan istri saya sekampung dengan andrea hirata (hehehehehe) lg nunggu maryamah karpov nich.

    wah kalau yang saya tangkap, terlalu banyak yang hendak di sampaikan Andrea Hirata dalam buku nya dan begitu di terjemahkan dalam bahasa gambar (film) menjadi lebih parah lagi, membingungkan penonton awam yang menontonnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: