Oleh: Redo Rizaldi | Januari 21, 2008

Omong Kosong Pemanasan Global


inconvenient.jpg

Setelah sekian lama, akhirnya sempat juga saya menonton film bertema politik lingkungan ini😀

an inconvenienth truth, film yang membahas habis tentang perubahan iklim serta pemanasan global ini sangat meyakinkan banyak pihak sehingga pada tahun 2006 pada perhelatan akbar insan film sejagat, film ini memenangi dua piala Oscar untuk kategori “Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Song” serta yang paling bergengsi “Best Documentary, Features”

Akting Al Gore di film semi dokumenter ini juga sangat natural dan meyakinkan. Pantas saja mantan wakil presiden serta mantan calon presiden Amerika Serikat ini juga mendapatkan penghargaan untuk dia secara pribadi pada tahun 2007 kemarin yakni penghargaan Aktor Terbaik…eh salah…Penghargaan Nobel Perdamaian yang katanya bergengsi tersebut.

Hanya saja…….

Setelah tuntas mengamati film tersebut dari awal slide hingga akhir, entah mengapa…….

Semua yang di sampaikan Al Gore tersebut, terdengar masih seperti omong kosong…………………………………..

Semua fakta yang dikemukakannya terasa masih seperti pepesan kosong.

Bukan nya kenapa-kenapa, dan bukan juga karena saya tidak peduli dengan isu lingkungan. Justru saya merasa agak jengah dengan perkembangannya yang sekarang terasa berlebihan.

Saya pernah “accidentally” menghadiri sebuah workshop tentang pembuatan iklan layanan masyarakat tentang perubahan iklim serta pemanasan global. Pembicara yang hadir ada yang dari WWF serta Kementerian Lingkungan Hidup yang bercerita panjang lebar tentang pentingnya perhatian yang besar serta signifikan mengenai isu lingkungan ini. Mereka sama meyakinkannya seperti Al Gore dalam filmnya itu.

Mereka memberi tahu bagaimana kita bisa melakukan perubahan yang berarti dan lebih menghargai lingkungan serta alam sekitar kita.

Tapi ironisnya, di pagi yang dingin sekali di kota Jogja pada waktu itu, di ruangan workshop tersebut. Air Conditioner menyala dengan kencang nya, badan saya ini sampai sedikit menggigil di buatnya.

dan ketika saya kemukakan, ide sepele nan sederhana agar pendingin ruangan tersebut dimatikan atau setidaknya dikecilkan, atas nama badan ini, atas nama yang sedang kita dengung-dengungkan soal peduli pemanasan global di ruangan itu agar bisa lebih hemat, tidak membuang freon sehingga dapat melubangi lapisan ozon bla bla bla…..

ditanggapi dingin sedingin pendingin di ruangan tersebut oleh pihak panitia. Orang-orang dari WWF atau yang dari Kementrian Lingkungan hidup pun seperti tidak mendengarkan saran tidak penting dari saya tersebut. begitu juga para pesertanya, mungkin karena mereka hanyalah pakar komunikasi dan multimedia yang wajar tidak peka mengenai isu-isu

yang tidak ada kaitannya dengan keahlian mereka,

Tapi tetap membuat saya geleng-geleng kepala.

Sepeminuman teh, seorang pakar lagi datang. Kali ini benar-benar pakar perfilman yang diakui, seorang sutradara perempuan asal malaysia, beliau pernah mendapatkan penghargaan di Festival Film Cannes untuk iklan bertemakan lingkungan hidupnya.

Namun yang sungguh menarik dan mencengangkan adalah apa yang dikemukakan kemudian di hadapan para peserta termasuk saya. Ia mengakui tanpa beban apa-apa bahwa yang pernah dilakukannya dalam pembuatan iklan lingkungan hidup yang memenangi penghargaan yang bergengsi di Cannes tersebut tidak dilatarbelakangi oleh kepeduliannya soal lingkungan hidup.

Apa yang dilakukannya, yang dianggap mulia oleh orang banyak, baginya hanya untuk mencari nama agar perusahaan multimedia nya dikenal agar ke depannya ia bisa mendapatkan kredibilitas sehingga menarik minat orang untuk memakai jasa perusahaannya dalam pembuatan iklan, dalam proyek-proyek yang menguntungkan untuknya.

Ia menyampaikannya dengan teramat santai, sebatang rokok menyelip di sela bibirnya dan mengepulkan asapnya di ruangan yang ber ac itu.

Ia bersikap sangat sinis, ia sendiri menyebut dirinya begitu, terlebih ketika ada peserta yang meminta nya mengomentari film dokumenter “an inconvenient Truth” yang fenomenal pada waktu itu, ia tertawa sinis, baginya motif Al Gore di film itu tidak jauh kurang lebih motif yang dimilikinya.

Ia pernah menyaksikan Al Gore di Malaysia ketika masih menjadi Wakil Presiden Amerika Serikat, jauh sebelum film ini di buat. Melakukan sesuatu yang jauh dari sosoknya di film tersebut beberapa tahun kemudian.

Apa yang disampaikannya, percaya tidak percaya, saya seperti mendapatkan pencerahan.

Sudah terlalu banyak pengalaman yang saya lewati dalam kaitannya dengan masalah ini, orang-orang tidak benar-benar peduli dengan masalah ini meski kelihatannya mereka peduli.

Saya juga ikut-ikutan menjadi synical hahahaha

Terlebih pada Desember tahun kemarin, tempatnya di Bali, sebuah konser eh salah..konferensi bertaraf internasional mengenai perubahan iklim diadakan. Yang diperbincangkan, tentu saja yang besar dan terlihat signifikan, bahkan Al Gore pun didaulat sebagai bintang tamu di konferensi itu untuk sepertinya memberikan semangat bahwa yang mereka lakukan besar sekali manfaatnya, bahwa biaya besar untuk konferensi tersebut maupun banyaknya pemborosan energi serta biaya karena semua yang dilakukan oleh mereka di Bali itu, tidak ada artinya di kemudian hari.

Namun kemudian saya menjadi miris di suatu hari, di sebuah surat kabar harian kompas, laporan kecil menceritakan insiden kecil yang terjadi di salah satu rapat kecil mengenai kerusakan lingkungan dalam konferensi tersebut, dimana asap rokok memenuhi ruangan rapat tersebut, seseorang dari mereka mencoba mengingatkan sesama mereka tentang ironi yang mereka lakukan. ketika mereka membicarakan tentang kerusakan lingkungan, mereka justru melakukan sesuatu yang mengotori udara dengan asap rokok mereka.

Akan tetapi seperti yang saya hadapi di workshop yang saya ceritakan di atas, omongan orang tersebut ditanggapi sinis oleh teman-teman seperjuangannya sendiri.

Isu “Pemanasan Global” seperti hanya di jadikan “issue of the year” yang mungkin untuk tahun-tahun mendatang kita tak lebih hanya akan mengingatnya seperti hari AIDS sedunia, Hari Buruh bla bla bla, tanpa ada langkah nyata dari seluruh pihak.

dan bagi saya, apakah itu kejutan?

bagi saya tidak🙂

Tapi tetap saja membuat saya geleng-geleng kepala melihatnya.

Sambil meraba-raba, saya juga merasa tidak jauh lebih buruk dari mereka…….

[laugh]


Responses

  1. yg mereka lakukan bukan membahasa tentang bagaimana menghadapi pemasana global tp membahas tentang isu pemanasan global, jd isu adalah topik utama disni do :hehe

    So? emang itu yang aku tangkap, dan justru karena itu juga membuat aku mengatakan keselurahan ini adalah omong kosong.

  2. Omong doang mungkin tepatnya. Wkwk.
    Ga tau kenapa, gue ga terlalu terbeli dengan isu pemanasan global. Lingkungan itu perlu dijaga memang, tp isu2 pemanasan global beberapa tahun belakangan hanya seperti sebuah hype.

    BTW.. software MS Word-nya banyak autocorrect-nya ya Do? Dari beberapa tulisan di blog ini, sering banget awalan di-nya jadi terpisah sama kata dasarnya. Gatel liatnya. :hehe

    Mike, ini tulisan jaman kapaan!! ha ha ha

    bukan autocorrect, tulisan gw aja yang ga beres waktu nulis ini waktu itu :p

    koq bisa tersesat disini sih? ;D


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: