Oleh: Redo Rizaldi | Januari 8, 2008

Tentang Kampung Halaman


Seorang teman perempuan saya bertanya tentang kampung halaman saya

“Ceritain dong do tentang kampung halaman kamu, saya tertarik pengen tahu”

Well, bagaimana saya harus bercerita? atau lebih tepatnya bagian mana dari kampung halaman saya yang berharga untuk di cerita kan kepada nya?

Tak ada yang menarik. Setidaknya ini dari penilaian seseorang yang telah hidup disana hampir seumur hidupnya.

Atau mungkin ini cuma pemikiran serta perasaan orang setempat saja ya? yang menganggap tempat hidup nya biasa saja, karena sudah terbiasa seumur hidupnya melihat yang itu-itu saja?

seperti orang bali dengan pantai kuta nya? orang Jogja dengan prambanan nya?

hmm, saya jawab kemudian..

“Kampung halaman ku biasa saja, tidak ada yang spesial, sama seperti daerah di kalimantan pada umum nya, daratannya terbentuk dari endapan pasir, membentuk tanjung, membentuk delta. Jenis tanahnya bergambut dimana jadi selalu sebagai tersangka utama setiap bencana kabut asap datang dan mengganggu penduduknya maupun penduduk negara-negara tetangga.

Kawasan Pantai di Kota Ketapang Kalimantan Barat

Kawasan hutan nya terbentang luas di hampir setiap sisi dan celah wilayah nya.

Itu bisa berarti dua hal, penduduk serta pertumbuhan kota nya masih sangat kecil, juga bisa berarti kawasan kami ini kenapa tidak di kembangkan oleh pemerintah pusat di tanah jawa sana, karena mereka peduli dengan pelestarian hutan sehingga tidak membiarkan kami membangun lebih besar lagi dari yang kami ingin kan.

Tapi jangan terlalu yakin juga, hutan hilang setiap harinya sebesar satu lapangan sepak bola. dan kampung halaman ku teman, tidak terkecuali. Tapi anehnya tidak juga pembangunan ikut menyertai perluasan wilayah layak bangun itu, Semuanya di tinggalkan gundul begitu saja, seolah yang mencukurnya berharap hutan itu akan tumbuh kembali sebaik dan secepat rambut manusia yang tumbuh di kepala.

Saya berharap demikian teman…”

“Ah tempat mu membosan kan ternyata”

Demi Tuhan saya tertawa mendengarnya. Dia sangat benar adanya, tempatnya sungguh membosankan, jalan-jalan saja setengah jam sudah bisa mengelilingi kotanya, kecuali ada yang gila mau mengelilingi seluruh luas wilayah kabupatennya, sebesar Jawa Barat hingga Banten?( itu kata orang sih :p )

“Ya sangat membosankan” saya tidak bisa menyangkalnya

“Tidak ada yang seru sama sekali? kerusuhan? seperti tempat-tempat lain di kalimantan??”

“Well, sayangnya tidak ada, di daerah ku benar-benar aman dari hal-hal seperti itu”

Wajahnya cemberut. Apakah ia berharap atau bahkan berdoa ada kerusuhan di tempat ku??itu pikiran konyol.

dan demi teman aku pun tidak mau mengecewakan, aku karang lah sesuatu.

“Well, sebenarnya, pemimpin di kampung halaman ku tidak cukup baik, seorang tirani kecil bahkan” aku berbohong.

Morkey-morkes the monkey-king of ketapang

“benarkah??”

Somehow cerita rekaan saya itu membuat matanya berbinar-binar, telinganya seperti berdiri memanjang.

“Iya, seorang raja kecil. terima kasih atas kebijakan pemerintah pusat tentang otonomi daerah, sekarang orang-orang setingkat pemimpin di tempat ku benar-benar memiliki kekuasaan lebih. Ketika pusat dengan gencar-gencarnya mengoplos investasi besar-besaran ke daerah-daerah, dengan birokrasi lebih mudah dan di bebankan ke pemerintah daerah langsung tempat investasi itu dibangun. Daerah-daerah seperti daerah ku seperti mendapatkan durian runtuh, berikut dengan pohon-pohonnya yang bertumbangan karena ikut di tebang.

Secara menakjubkan, daerah ku menjadi salah satu pusat pertambangan yang penuh potensi, dalam kurun waktu kurang dari lima tahun, dua bukit telah di babat habis, itu karena bahan tambang bernama bauksit.

dan seiring dengan fenomena tersebut, perkebunan kelapa sawit juga mendadak hadir. Menempati lebih dari ribuan area yang sebelumnya hutan belantara tak berguna, ato lahan tidur istilah ekonominya.

penduduknya? tentu saja kaya raya, jauh dari sebelumnya. tapi hanya segelintir hahaha”

“Kok bisa? apa sedemikian kuat kah pengaruh serta kekuasaan bupati mu itu?”

“Bisa di katakan iya, bahkan pusat pun bisa dikatakan tidak bisa berbuat apa-apa, atau setidaknya di buat untuk tidak berusaha berbuat apa-apa”

“Maksudnya?”

“Pernah ada lembaga pemerintah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang di tugaskan untuk memeriksa keuangan daerah kami, gagal ke tempat kami karena selama dia berada di ibukota provinsi kalimantan barat (pontianak-red). ia tidak bisa karena seluruh perjalanan pesawat menuju ke kota ku penuh selama ia di sana, satu-satunya jalan yaitu dengan melewati laut butuh waktu seharian, tentu saja orang-orang pusat yang biasa hidup enak tidak akan serajin itu. akhir cerita tidak terjadilah pemeriksaan itu hahaha”

“Kamu kok bisa tertawa, kalo benar ada kejadian seperti itu, terhadap kampung halaman mu sendiri”

“Mau bagaimana lagi? menangis atau berteriak marah seperti orang gila? lagipula yang melakukan semua itu juga tidak jauh-jauh, orang kampung halaman ku sendiri juga”

“Huh, yang kamu ceritakan itu nyaris sebuah keadaan yang sempurna untuk dijadikan perhatian semua orang yang punya akal sehat dan hati nurani untuk peduli. Tapi semua itu terlalu sempurna untuk wilayah kecil di pulau Kalimantan, lagi pula cerita-cerita itu sudah sering aku dengar dari daerah-daerah yang lain. Cerita daerah mana yang kamu contek? yang telah kamu bumbui dengan hilangnya hutan sebesar lapangan bola setiap hari, hilang nya dua bukit, serta kamu tambah-tambahi dengan pemimpin yang tirani?!”

“Jadi kamu tidak percaya dengan cerita ku??”

Saya pun menutup pembicaraan omong kosong itu dengan tertawa sepuas-puasnya, mengalihkannya dengan menyeruput kopi manis buatannya, serta berbicara hal lain selain yang tadi. Yang lain yang sama kosongnya dengan yang sebelumnya.

“Untuk Kota Kayong Kota Ketapang yang Tak Pernah Mati di Hati”

Tugu ale-ale di malam hari kebanggan kota ketapang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: