Oleh: Redo Rizaldi | Januari 4, 2008

My Name is Light Review


My Name is Light

Pengarang: Elsa Osorio
Jumlah halaman: 468
Genre: History, politics, military
Bahasa: Indonesia (Terjemahan)

My Name is Light Front Cover

Novel yang menceritakan seorang perempuan bernama Luz Iberte yang seumur hidupnya mengalami kegelisahan yang tak berdasar dan tidak diketahui oleh nya penyebabnya. Kegelisahan itu semakin memuncak ketika setelah ia melahirkan, di dorong oleh keinginannya untuk mencari asal dari kegelisahan tersebut, ternyata mempertemukan dia dengan masa lalu orang tua sebenarnya dengan masa-masa tergelap negara Argentina pada pertengahan tahun 1970-an.

Sayang karena yang saya baca ini sebuah novel terjemahan, saya gagal menangkap dimana kah kesan novel ini adalah salah satu international best seller serta memenangi penghargaan Amnesty International untuk kategori Fiksi.
Dialog Luz dengan Ayah Kandungnya di Madrid diantara penuturan Luz tentang sejarah mereka berdua pada periode 1976 hingga tahun 200-an cukup lumayan mengganggu.
saya harus benar-benar berkonsentrasi dan berhati-hati di bagian mana kah dari susunan tulisan di novel ini yang menceritakan masa lalu dan di bagian manakah yang menceritakan masa sekarangnya.
terlebih alurnya yang lambat, banyak nya karakter-karakter sempilan cukup membuat saya bingung di awal-awal penuturan.

banyaknya kisah dalam proses ceritanya yang berakhir di kaidah “seks” juga agak membuat saya geli sekaligus bersemangat untuk terus membacanya. :haha

kaitannya juga dengan tragedi HAM pada masa rezim militer terdahulu di Argentina itu, tidak tergambar cukup keras bagi saya, cukup sering penggunaan kursi ldan sengatan istrik di puting susu di jadikan satu-satunya alat di novel ini untuk membangun atmosfer mencekam dan kengerian.

tapi salut dengan upaya si empunya novel, mengangkat tema ‘desaparecido’ serta anak-anak yang hilang semasa kekuasaan militer di Argentina.

rangkaian model-model fakta sejarahnya tertulis dengan kuat disini.

overall Novel ini sangat layak untuk dibaca, tapi saya yakin yang terbaik mungkin kalo kita membaca versi original nya untuk menangkap kesan yang lebih.

“ah well ini novel pertama yang saya baca setelah setahun lamanya menyerah untuk membaca novel terjemahan”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: